Minggu, 19 April 2026
Ingat Himne Flobamora di Depan Lapak Sei Babi di Malang
Sabtu, 18 April 2026
Mampir Ngopi di Warkop Bu Paima Nikmati Bella Vista yang Makin Parah
Sudah pasti dekat juga dengan Balai Kota Malang. Sayang, kondisi bangunan Bella Vista makin muram. Benar-benar tidak terurus. Meski belakangan digunakan kafe anak muda, kondisinya tidak lebih baik.
Ayas jadi ingat era 90-an. Gedung itu masih dianggap mewah, elite di tengah Kota Malang. Banyak turis bule yang nginap di situ. Kita orang hanya bisa memandang dari luar pagar.
"Kayaknya ada sengketa waris," kata seorang bapak yang biasa main catur di Warkop Bu Paima. "Makanya masih status quo."
Di mana-mana nasib bangunan tua atau cagar budaya selalu begitu. Ada saja sengketa perdata rebutan para ahli waris. Saling klaim di pengadilan. Akhirnya bangunan jadi telantar. Lama-lama rusak dan hilang.
Kalau tidak salah bangunan tua itu digunakan sebagai kampus. STT Atlas Nusantara kalau tidak salah. Kampus itu kemudian pindah ke Arjosari dekat terminal.
Sejak itulah eks Bella Vista jadi merana. Masih lumayan beberapa tahun terakhir dimanfaatkan warkop-warkop hingga pangkalan pekerja gig atawa tukang ojek online.
Bu Paima yang paling awet. Makanannya dari dulu rasanya sama. Begitu juga pisang gorengnya yang khas. Kopi racikannya juga beda dengan kopi di warkop-warkop di Surabaya dan Sidoarjo.
Sore ini ada beberapa gadis langsing usia di bawah 20-an. Rambut mereka dicat ala artis Korea. Wangi pula. Rupanya mereka bakal ada live music malam hari.
"Om nonton aja sambil ngopi-ngopi," kata salah seorang cewek yang doyan nyedot vape.
"Waduh, Om wis tuwir. Senangane lagu-lagu lawas kayak Ida Laila dan Mansyur S," kata Ayas pesi-pesi aja.
Bu Paima memang suka banget muter radio spesialis ndangdut di Ngalam. Ayas pun jadi terbiasa dengar dangdut-dangdut lawas ala Ida Laila, Mansyur S, Meggy Z, Rhoma Irama hingga generasi baru Lesti Kejora, Nella Kharisma, Via Vallen.
Hidup Jokowi, eh...
Sabtu, 03 Januari 2026
Natalan sekaligus nostalgia di Malang bersama Karin dan Dewi
Sesekali ngajak Karin wisata sejenak di Malang. Keponakan Ayas ini kuliah di Stikes RKZ Surabaya. Anaknya sejak kecil paling malas jalan-jalan. Lebih suka membaca buku atau baca apa saja di kamar.
Ayas pikir Karin tidak mau berlibur sejenak di Malang. Ternyata mau. Bahkan dia ajak Dewi temannya satu kelas di RKZ. Dewi ini asli Papua, Serui, tapi namanya sangat Jawa. Anaknya lincah, ceria, senang bercanda.
Karin pendiam tapi suka tertawa lepas jika ada yang dirasa lucu. Kawan-kawannya sudah berhenti tertawa, dia masih hahaha. Unik.
Liturgi Natal dipusatkan di Gereja Kayutangan yang ikonik itu. Karin dan Dewi minta misa kedua yang bubarnya hampir 24.00.
"Sonde apa-apa. Beta biasa misa malam Natal yang paling akhir di Kupang," kata Karin.
Putra pasutri asli Lembata tapi baru sekali datang ke Pulau Lembata. Karena itu, sejak bayi sampai mahasiswa gaya bahasanya Melayu Kupang. Bahasa Lamaholot yang digunakan di Lembata tidak bisa.
Karin malah lebih suka belajar bahasa Inggris intensif di English Village ketimbang belajar bahasa daerah ibu bapaknya. Bahasa daerah, apalagi Lamaholot, memang sering dianggap tidak relevan di era globalisasi.
Sorenya kita jalan-jalan sekitar Bundaran Tugu, depan Balai Kota, mampir sejenak di kompleks SMAN Tugu yang ada tiga sekolah tua itu. Ayas nostalgia di Mitreka Satara atawa SMAN 1 Malang.
"Beta punya teman satu kos sekarang jadi pejabat sangat penting di Pemprov NTT. Dulu dia di SMAN 4 Malang," kata sang paman kepada keponakan. Sekadar nostalgia tipis-tipis.
Ayas kemudian ajak mampir ke warkop di dekat Balai Kota dan DPRD Kota Malang. Bella Vista nama gedungnya. Sekarang sudah kusam. Jadi kafe anak muda malam hari. Di sebelahnya ada warungnya Bu Tiami. Sejak dulu Ayas sering mampir di sini. Bahkan kalender yang dipajang di warung itu biasanya Ayas yang bagi.
"Puji Tuhan, enak juga makanan di Malang ini," kata Dewi yang tinggal di Asrama Mahasiswi RKZ. Maklum, anak asrama biasanya sering mengeluhkan makanan massal yang terasa hambar karena kurang bumbu.
Misa di Kayutangan dipimpin Romo Yoris OCarm. Imam Karmelit ini berasal dari Ende Flores. Dari dulu imam-imam yang bertugas di Kayutangan memang berasal dari Flores atau NTT (Nasib Tidak Tentu).
Romo Yoris rupanya bisa menebak asal seseorang dengan melihat roman muka, rambut, warna kulit, postur dsb. Saat bersalaman dengan Dewi di halaman gereja, dia berkata, "Kamu dari Serui ya?"
Dewi pun menjawab iya.
"Dari mana romo tahu?" Ayas bertanya.
"Saya cukup lama bertugas di Serui. Jadi, saya bisa membedakan mana orang Serui dan bukan," katanya.
Suasana makin cair. Romo Yoris pun sedikit nostalgia pastoralnya di Serui. Ayas dan Karin mendengar dengan takjub. Rupanya pengalaman di Serui cukup berkesan.
Itulah the power of nostalgia.
Selasa, 09 Desember 2025
Mengenang SMPK San Pankrasio Larantuka yang Pernah Jadi Sekolah Favorit di NTT
Selasa, 02 Desember 2025
Mencoba Bus Trans Jatim ke Batu setelah 15 Tahun
Senin, 10 November 2025
Cucu Lebih Tua ketimbang Anak - Adik Sepupu Rasa Ponakan
Jumat, 07 November 2025
B2W selama 5 bulan haleluyaaaaa
Rabu, 05 November 2025
Ama Dewa Lera Wulan Kowa Lolon
Sabtu, 11 Oktober 2025
Mbak Nur Gendut Tukang Masak di Jolotundo Pulang ke Rumah Allah
Nama Nur rupanya sangat populer di kawasan wisata Jolotundo, Trawas. Tepatnya di Desa Seloliman. Ada 5 wanita bernama Nur yang buka warung djaman doeloe sebelum kalah bersaing dengan warung-warung baru gaya modern.
Nur Khasanah alias Mbak Gembuk. Nur Beringin yang warungnya dekat pohon beringin. Nur Gendut karena gemuk banget. Dua Nur lagi di dekat PPLH lupa.
Ayas sangat lama tidak naik ke Jolotundo. Ada kesibukan dan rute healing baru. Misalnya Bangkalan, Madura, atau belakangan Malang Raya.
Betapa kaget mendengar kabar bahwa Nur Gendut sudah tiada. Pulang ke pangkuan Sang Pencipta. Selamat jalan, Mbak Nur!
Nur Gendut ini yang paling dekat rombongan komunitas seniman asal Sidoarjo. Jadi pembantu, tukang masak Mbah Gatot Hartoyo, budayawan, sejarawan lokal, yang punya padepokan di Biting dekat Jolotundo. Padepokan ala rumah panggung ini jadi markas diskusi atau sarasehan budaya.
Mbak Nur Gendut yang setia menyiapkan kopi, teh, makanan untuk para tamu. Malam tahun baru biasanya ada syukuran tumpengan di padepokan Mbah Gatot. Mbak Nur sangat sibuk di dapur.
Nur sejak kecil sudah gendut. Berkebutuhan khusus. Jalan harus pakai tongkat. Tapi kelebihannya di masak. Lebih enak ketimbang Nur Khasanah yang warungnya di atas dekat Sumur Jolotundo.
Karena itu, kepergian Mbak Nur Gendut membuat Ayas dan kawan-kawan dari Sidoarjo sangat kehilangan. Sebelumnya Mbak Saning juga pulang ke hadirat Allah. Mereka sudah ibarat keluarga sendiri saking seringnya bertemu.
Ayas mampir di padepokan Mbah Gatot belum lama ini. Ternyata Nur Gendut sudah lama punya masalah kanker payudara. Sempat rawat inap di rumah sakit tapi kondisinya malah makin parah. Akhirnya selesai.
Nur Gendut meninggalkan seorang putri, Sila, kelas 8 SMPN di kawasan Trawas. Beda dengan mamanya yang gendut, Sila sangat kurus karena makan sedikit.
Sabtu, 04 Oktober 2025
Lagu Lawas Malang Kota Subur Pernah Sangat Terkenal di Malang
Oleh Dukut Imam Widodo
Antara tahun 1950 hingga 1960-an ada beberapa kelompok paduan suara yang terkenal di Malang.
Paduan Suara SGAK Celaket 21, SDK Kodya Malang, RRI Malang, Kesenian Malang.. dan mungkin masih banyak lagi.
Dengan iringan piano dan arahan dirigen, maka bernyanyilah para anggota paduan suara itu dengan penuh semangat membawakan lagu-lagu mars seperti Maju Tak Gentar, Halo-Halo Bandung, atau Hari Merdeka.
Adalah R. Dirman Sasmokoadi. Sekitar tahun 1960-an beliau pernah mengajar di SPG Jalan Bromo. Beliau bukan komponis terkenal seperti Ibu Sud, Ismail Marzuki, atau Cornel Simanjuntak. Namun beliau pernah menciptakan sebuah lagu indah judulnya Malang Kota Subur.
Saya tidak mengenal beliau secara pribadi. Namun, melalui karyanya yang berjudul Malang Kota Subur itu saya menaruh hormat pada beliau.
Sekarang ini tidak semua murid SD di Malang hafal dengan lagu ini. Jangankan muridnya hafal, lha wong gurunya saja tidak tahu lagu ini kok!
Nah, jika Anda membaca tulisan ini, dan kebetulan Anda seorang guru, atau ketua sebuah paduan suara di sekolahan.. pliz deh, nyanyikan lagi lagu ini:
MALANG KOTA SUBUR
Oleh R. Dirman Sasmokoadi
Betapa indah gemilang Kota Malang
Kota di datar tinggi,
Sejuk menarik hati
Yang Brantas melintas berliku
Yang tepi dilindung gunung
Penuh pemandangan sehat
Malang kota berkat
Ya, Malang kota harapan setiap insan
Lihat gedung sekolahnya
Lihat industrinya
Sekitarnya penuh tamasya
B'ri sehat jiwa dan raga
Marilah kawab bersyukur
Malang kota subur
Rabu, 01 Oktober 2025
Ayas dicurigai dan diinterogasi satpam di kantor Radar Madura
Tak terasa sudah 4 bulan gowes B2W
Akhir bulan September 2025. Ketua RT bagi surat edaran lewat kertas dan wasap. Wajib pasang bendera setengah tiang. Lalu bendera penuh pada 1 Oktober.
Tidak ada perintah nonton bersama film Pengkhianatan G30S PKI seperti masa Orde Baru dulu. Tapi belakangan romantisme Orba muncul kuat di masyarakat. Pak Harto presiden terbaik, begitu pendapat yang banyak muncul di media sosial.
Lupakan dulu soal berat kontroversial tentang G30S, Pancasila Sakti, Orde Baru, Soeharto, Prabowo, makan bergizi gratis yang belakangan dikupas di mana-mana.
Ayas bahas gowes saja. Tak terasa sudah 4 bulan penuh Ayas gowes rutin ke tempat kerja. Bike to Work alias B2W. Empat bulan nyaris penuh karena cuma dua atau tiga hari terpaksa tidak bersepeda karena hujan musim kemarau.
Empat bulan membuat otot-otot kaki jadi terbiasa. Pernapasan pun biasa saja. Jarak 10 km rasanya ringan saja. Kecepatan sedang. Tidak secepat gaya balapan off road tapi juga tidak santai macam ibu-ibu gowes ke pasar. Sesekali gowes dengan kecepatan tinggi di MERR arah Kenjeran kalau sepi.
Selama 4 bulan ini Ayas sudah 2 kali mencapai kawasan pegunungan Jolotundo Trawas. Finis di gazebo dekat PPLH yang jadi markas komunitas gowes Surabaya Raya.
Tanjakan ekstrem di seputar Jolotundo membuat Ayas harus sering turun. Nuntun sepeda sampai medan agak datar meski pendek. Lalu nuntun lagi dst. Toh sampai juga di garis finis.
Ayas juga jadi sering ke Bangkalan Madura. Lewat kapal penyeberangan Ujung - Kamal. Gowes dari Kamal ke Bangkalan Kota cuma 18 atau 20 km. Tempat mangkal di Kelenteng Eng An Bio. Ngobrol panjang lebar dengan Tan Siansen biokong yang wawasannya sangat luas - sering menang isi TTS harian Kompas yang sulit.
Dari kelenteng tua di Jalan PB Sudirman, Ayas meluncur ke Martajasah. Makam Mbah Cholil pusat wisata religi utama di Pulau Madura. Ramai banget.
Lalu geser ke hutan bakau wisata mangrove. Cukup menarik pemandangan alam di pesisir Bangkalan itu. Sayang, komunitas nyamuk terlalu banyak. Minyak serai, minyak kayu putih, obat nyamuk oles tidak mempan.
Anehnya, warga setempat kelihatan asyik-asyik saja dan bahagia. Kayak sudah kebal dengan nyamuk. Rupanya nyamuk Van Madoera cuma doyan mengisap darah pendatang baru.
"Kapan ke Madura lagi? Lama sampean tidak ke sini," tanya Tan Siansen lewat WA.
"Owe lagi di Malang. Lihat pawai budaya kirab tepekong dalam rangka 200 tahun TITD Eng An Kiong."
Nama kelenteng di Malang dan Bangkalan sangat mirip. Eng An Kiong Malang dan Eng An Bio Bangkalan. Sama-sama tua. Tapi acara sembahyangan tidak meriah. Tidak ada kirab budaya besar-besaran seperti di Malang.
Tuan Tan ini senang sekali kalau dibawakan koran Kompas edisi Minggu yang ada TTS itu. Hadiahnya memang besar. Tan sudah 5 atau 7 kali menang. "Sudah lama Kompas tidak beredar di Madura," katanya.
Sabtu, 27 September 2025
Basah keringat, gagal misa, menatap patung Binatang Jalang
200 Tahun Kelenteng Eng An Kiong Malang, Kirab Tepekong
Sabtu pagi ini, 27 September 2025, ramai banget di Kotalama Malang. Rupanya ada perayaan 200 tahun Kelenteng Eng An Kiong.
Luar biasa! Sudah dua abad usia kelenteng di kawasan Pecinan Malang itu.
Ada acara kirab arca atawa tepekong dari 52 kelenteng di Jawa. Panitia membatasi karena kapasitas yang terbatas. Dari Surabaya ada Kelenteng Mbah Ratu ikut serta. Ada juga kelenteng dari Semarang, Lasem, hingga Jawa Barat kirim arca untuk pawai keliling kota.
Kevin panitia bilang ada perwakilan 7 negara partisipasi dalam perayaan dua abad Eng An Kiong sekaligus 14th World Tua Pek Kong Festival. Rombongan dari luar negeri sekitar 1.500 orang. Undangan dari dalam negeri 2.500 orang.
Setiap kelenteng bawa arca tuan rumahnya masing-masing lalu dibawa kirab bersama, kata Kevin.
Perayaan dua abad Kelenteng Eng An Kiong di Malang ini penting dan bersejarah. Paling tidak jadi rujukan bahwa sudah 200 tahun lebih warga Tionghoa eksis di Kota Malang. Mereka dagang, buka toko, dan ikut membangun peradaban modern di Kota Malang dan tanah air umumnya.
Ayas masih ingat dulu ada bioskop di depan kelenteng. Bioskop Mulia kalau tak salah. Zaman Belanda namanya Emma Theatre. Persis di samping Emma Hotel. Hotel tua itu baru saja dibongkar sekitar dua bulan lalu.
Tidak jauh dari situ ada Bioskop Garuda. Juga tinggal nama. Kemudian di sebelahnya ada Sekolah Tionghoa yang kini jadi SMAN 2 Malang.
Tak jauh dari SMAN 2 ada Rumah Sakit Tionghoa Malang. Sekarang jadi RS Panti Nirmala milik yayasan Katolik. Begitu banyak aset Tionghoa di kawasan Petjinanstraat atawa Jalan Martadinata nama sekarang.
Ayas dulu sangat sering jalan kaki di depan kelenteng ke rumah paman yang hanya sepelemparan batu dari kelenteng legendaris itu. Tapi tidak pernah masuk. Apalagi wawancara atau sekadar bertanya tentang tradisi budaya Tionghoa dan sebagainya.
Bahkan, dulu zaman Orde Baru, segala hal yang berbau Tionghoa atawa Cina harus dijauhi. Termasuk bahasa Tionghoa, aksara Mandarin, barongsay, liang liong, busana Tionghoa dan sebagainya.
Karena itu, dulu kelenteng terlihat misterius. Ada kegiatan tapi diam-diam saja. Ayas baru masuk setelah ikut rombongan Kelenteng Hong San Ko Tee Surabaya mengikuti pawai kirab tepekong sekian tahun sebelum covid. Ibu Juliani pimpinan Kelenteng Hong San Ko Tee yang ajak ke Malang.
Sejak itu Ayas makin terbiasa mampir di Eng An Kiong. Dewa-dewi Tionghoa bukan lagi sosok misterius dan menakutkan. Bahasa dan aksara Tionghoa pun bukan lagi "bahasa setan" seperti yang sering disampaikan pejabat-pejabat pada masa Orde Baru.
Dirgahayu Kelenteng Eng An Kiong!
Senin, 22 September 2025
Nus Tuwanakotta Penyiar Legendaris TVRI Surabaya, Teknik Vokal Diafragma
Dulu hanya satu stasiun televisi di Indonesia. TVRI: Televisi Republik Indonesia. Seluruh rakyat Indonesia nonton TVRI. Dari Sabang sampai Merauke. Dari Sangihe sampai Rote di NTT.
Karena itu, wajah dan suara penyiar TVRI sangat dikenal orang-orang lawas. Sambas, Toety Aditama, Idrus, Yasir Denhas, Hasan Azhari Oramahi, Yan Partawidjaja, Luther Kalasuat, Pungky Runkat....
Di TVRI Surabaya ada Nus Tuwanakotta. Penyiar kawakan ini lebih dikenal dalam liputan olahraga. Pertandingan Persebaya Surabaya di Tambaksari hampir pasti disiarkan langsung oleh Bung Nus, 76.
Cuplikan pertandingan Persebaya biasa muncul di Dari Gelanggang ke Gelanggang. Kadang di Arena dan Juara. "Saya juga meliput langsung Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Semua pertandingan kami liput," ujar wartawan senior di Surabaya itu.
Nus Tuwanakotta tandem dengan Max Sopacua saat liputan di Amerika Serikat. Reporter TVRI seksi olahraga lain yang kondang [hampir semua kondang] antara lain Abraham Isnan, Sambas sudah pasti, Huzair Tarmidzi, Azwar Hamid.
Yang menarik, gaya dan teknik vokal penyiar-penyiar TVRI djaman doeloe sangat khas. Suara berat, dalam, berwibawa. "Itu teknik vokal diafragma. Semua penyiar harus menjalani latihan cukup lama sampai benar-benar menguasai," kata Bung Nus.
Dulu, sebelum dilepas jadi penyiar berita, seorang calon penyiar harus melalui tahap latihan ketat. Ada ujian baca artikel dengan suara mantap, bulat, dan berwibawa. Kalau lolos, baru bisa dipercaya muncul di layar.
Selain itu, ada juga pendidikan khusus di Balai Diklat TVRI Jakarta selama berbulan-bulan. Tujuannya jelas: membentuk suara diafragma yang kokoh.
“Live reporting pun harus pakai suara diafragma,” kata Nus Tuwanakotta.
Bahkan ketika ia melaporkan langsung pertandingan sepak bola 2x45 menit, termasuk Piala Dunia, Olimpiade, hingga Asian Games, semua tetap menggunakan teknik suara dari diafragma.
Itulah sebabnya, penyiar TVRI dan RRI zaman dulu suaranya rata-rata berat, berwibawa, dan terdengar seragam.
Sekarang, situasinya agak berbeda. Presenter atau host televisi lebih banyak tampil dengan suara natural. Tidak semua dituntut untuk punya suara besar dan berotoritas.
Malah, tren penyiaran modern justru lebih menekankan spontanitas, gaya santai, dan kedekatan dengan penonton. Seakan-akan yang penting bukan lagi suara berat, melainkan kesan akrab dan mudah dicerna.
Perubahan ini tentu ada plus minusnya. Di satu sisi, suara berat dan berwibawa memberi rasa formalitas dan kepercayaan. Di sisi lain, suara natural cenderung lebih disukai audiens sekarang yang lebih suka gaya informal.
Bung Nus sebagai penyiar era diafragma menegaskan bahwa teknik vokal diafragma yang terbaik bagi penyiar radio dan televisi. Putranya, Iwan Tuwanakotta, sekarang penyiar TVRI Jawa Timur (nama baru TVRI Surabaya) mewarisi bakat ayahnya.
Bung Nus kerap diundang menjadi instruktur penyiar-penyiar di sejumlah televisi swasta nasional dan televisi lokal. Dia perlu waktu lama, sangat telaten, membentuk vokal dengan pernapasan diafragma. Mirip latihan vokal untuk penyanyi profesional.
Salah satu muridnya adalah Rendra Sudjono presenter Indosiar dan SCTV spesialis siaran pandangan mata atawa live reporting sepak bola. Rendra menggunakan diafgrama. Bukan suara natural ala orang ngobrol di kafe atau pasar.
Melaporkan pertandingan sepak bola 2x45 menit plus tambahan waktu jelas membutuhkan stamina dan suara yang prima. Tidak mudah serak. Itu hanya bisa jika menggunakan teknik diafragma.
Sabtu, 20 September 2025
Baba Yentji Sunur Bupati Lembata 2 Periode Ternyata Satu Leluhur Hurek
Baba Yentji Sunur, Bupati Lembata NTT, dua periode sudah lama meninggal dunia. Tepatnya 2021. Baba Tionghoa yang aktif di politik itu jadi korban penyakit aneh yang disebut Covid-19.
Saya cuma sekali bertemu Baba Yance sapaan akrabnya. Itu pun karena kebetulan sama-sama naik Susi Air dari Lembata ke Kupang. Bupati Yance didampingi dr Kandou, istrinya yang asli Manado.
Tak banyak informasi yang saya ketahui tentang Eliaser Yentji Sunur alias Baba Yentji. Cuma info sumir bahwa baba Tionghoa itu sebetulnya "tite hena". Artinya, bukan orang lain, tapi masih punya hubungan darah dengan suku (fam, marga) Hurek Making.
Hanya saja, leluhur wanitanya kawin dengan baba Tionghoa di Kedang. Karena itu, keluarga besar Suku Hurek kurang mengenal dekat cucu cicit yang di Kedang itu. Apalagi dari jalur perempuan macam leluhurnya Baba Yentji Sunur.
Saya baru dapat cerita yang lebih detail dari Om Cornelis Kalu Hurek di Kotalama Malang, dekat kelenteng, seputar leluhur Suku Hurek "biko tou".
Artinya satu rumah adat. Karena Suku Hurek Making punya 5 biko.
Singkat cerita: kakeknya bapak saya (Gega Hurek), kakeknya Om Cornelis (Ire Hurek), dan kakeknya Yentji Sunur (Uba Hurek) itu saudara kandung. Nama kakeknya bapak saya itu Nuho Hurek.
Bapak saya juga pakai nama Nuho Hurek. Lengkapnya Nikolaus Nuho Hurek. "Jadi, tite tou hena, ata ahan hala. Tite mei tou," kata Om Cornelis yang sudah tinggal di Malang sejak awal 1970-an.
Omongan Om Cornelis itu artinya: Kita (dengan Baba Yentji) itu satu leluhur, bukan orang lain. Kita satu darah.
Baba Yentji sendiri lahir dan masa kecilnya di Kedang. Lalu merantau ke Jakarta untuk kuliah, kerja dan sebagainya. Baru pulang kampung ketika berniat maju dalam Pilkada Lembata.
Calon bupati mau tidak mau mencari suku adat, jaringan leluhur, kekerabatan agar bisa menang. Namanya juga pemilihan langsung.
Sejak itulah Baba Yentji jadi sadar bahwa dirinya ternyata punya hubungan kekerabatan dengan Suku Hurek Making di Pulau Lembata bagian utara. Ada dua kecamatan yang potensi suaranya besar.
Saya pun baru sadar sekarang mengapa bapakku (almarhum Niko Nuho Hurek) dulu sangat getol mendukung pasangan Baba Yentji dan Victor Mado Watun. Calon wakil bupati memang Suku Watun yang memang masih keluarga juga.
Tapi Baba Yentji? Bapa Niko tidak cerita sedetail Om Cornelis Kalu Hurek di Kota Malang.
Om Cornelis menuturkan, Buyut Nuho punya 6 anak. Lima laki-laki dan satu perempuan. Nah, satu-satunya perempuan itu (Mbah Uba) yang jadi kakek baba Tionghoa, Yentji Sunur, yang pernah jadi Bupati Lembata selama 9 tahun itu.
Baba Yentji sudah lama tiada. Seandainya masih hidup tentu saya akan sering mampir, ngobrol, diskusi, belajar ilmu dagang. Sebab, dialah salah satu dari sedikit baba Tionghoa yang pintar dagang + main politik.
Damai di surga, Baba Yentji!
Jumat, 19 September 2025
Buruh Pakerin Berkemah di Depan Kantor Gubernur Jawa Timur
Beberapa hari ini Ayas mampir di Titik Nol Surabaya. Persis di depan kantor Gubernur Jawa Timur. Persis di seberang Tugu Pahlawan. Memantau grup kerjaan khawatir ada koreksi, komplain dsb.
Kalau ada masalah bisa balik lagi ke kantor. Tidak terlalu jauh. Monumen Titik Nol sering disambangi penggowes atawa wisatawan lokal. Foto-foto, bikin konten, istirahat sambil ngopi, ngeteh atawa minum air putih nan sehat.
Ayas jadi tidak enak melihat ratusan buruh PT Pakerin berkemah di depan kantor gubernur. Pabrik kertas yang terkenal (dulu) itu rupanya lagi bermasalah. Ratusan buruh sering unjuk rasa di pabriknya dekat Jembatan Prambon itu. Kemudian demo berkali-kali di Surabaya.
Rupanya ada masalah manajemen keluarga. Pecah kongsi. Pabrik jadi macet. Gaji buruh tidak dibayar berbulan-bulan. THR pun tidak dibayar. Kami minta bantuan gubernur, kata seorang buruh.
Di tengah ekonomi yang lesu ini pemerintah daerah tak bisa berbuat banyak. Gubernur Khofifah juga sibuk misi dagang ke Kalimantan dan daerah lain di luar Jawa. Dinas-dinas yang ada tak banyak membantu mengatasi kasus Pakerin alias Pabrik Kertas Indonesia.
Mengapa tidak mengadu ke Jakarta? Langsung ke Menaker atau Wakil Menteri Tenaga Kerja? Oh ya, Wamenaker Noel baru saja ditangkap KPK karena korupsi.
Kami ngadu ke gubernur dan dewan aja dulu, kata seorang karyawan. Dia dan kawan-kawan yakin kasus Pakerin bisa diselesaikan jika pihak bank tidak membekukan rekening perusahaan.
Entah kapan perkemahan di depan kantor Gubernur Jawa Timur ini berakhir. Pakerin bukan satu-satunya perusahaan yang bermasalah.
PT Gudang Garam yang raksasa pun ikut oleng. Banyak buruh yang di-PHK. Gubernur bilang bukan PHK tapi pensiun dini.
Yang pasti, Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Inflasi menggila. Harga semua barang dan jasa naik tajam. Harga diri wakil rakyat di mana-mana yang anjlok.
Kamis, 18 September 2025
Apes! Angkot di Arjosari Malang Ngetem Satu Jam dan Tidak Berangkat
Jarak Surabaya (titik nol di Tugu Pahlawan) dengan titik nol Sidoarjo dekat alun-alun cuma 30 km lebih sedikit. Tapi ada beberapa titik kemacetan parah yang membuat durasi perjalanan jadi sangat lama. Bisa satu jam bahkan 90 menit saat jam pulang kerja.
Ayas sering naik bus ekonomi dari Terminal Purabaya Bungurasih ke Arjosari Malang. Jaraknya hampir 100 km. Lama perjalanan rata-rata 70 menit. Bahkan bisa lebih cepat atau lambat sedikit.
Luar biasa!
Perjalanan dari Surabaya ke Malang saat ini ibarat perjalanan di dalam kota saja. Tidak lagi dua jam atau tiga jam lewat jalur tradisional. Jalan tol yang tersambung menyeluruh mengubah segalanya.
Bus tidak bisa lagi turun naikkan penumpang di mana saja. Tidak bisa ngetem di terminal, halte, atau di mana saja. Sekarang cuma bisa ngetem sejenak di pintu keluar Purabaya.
Lalu ngebut terus sampai Karanglo, eksit tol. Kemudian masuk Terminal Arjosari.
Masalahnya setelah sampai di Arjosari. Angkot-angkot ngetem lama sekali. Kadang bisa satu jam dan belum tentu berangkat jika jumlah penumpang terlalu sedikit.
Ayas dapat pengalaman buruk pekan lalu. Sampai di Arjosari sekitar pukul 21.10. Target pukul 22.00 harus sampai di Kotalama, dekat kelenteng yang terkenal itu karena ada voucher. Lewat jam 10 malam hangus.
Tunggu punya tunggu, hampir satu jam, angkot AMG (Arjosari, Malang, Gadang) tidak juga berangkat. Mungkin karena penumpang saat itu hanya tiga orang. Tunggu dua penumpang lagi minimal. Ternyata tidak ada.
Mendekati jam 22.00 angkot tidak berangkat. Ayas sudah tak punya kemampuan untuk marah atau maki-maki. Langsung turun jalan kaki mampir di warkop dekat pintu keluar terminal. Mendoakan sopir angkot yang ngawur itu.
Sudah pasti voucher hotel gratis hangus. Plan A gagal. Harus ambil plan B. Bermalam di kos harian semacam penginapan sederhana di Arjosari. Besok pagi baru meluncur ke Malang Kota.
Ayas baru saja baca para sopir angkot di Malang menghadap wakil rakyat. Memprotes rencana bus Trans Jatim masuk Malang Raya. Itu membuat penghasilan mereka berkurang.
Kawan-kawan sopir angkot itu lupa bahwa ulah mereka yang ngetem sangat lama sangat merugikan penumpang. Masyarkat jadi hilang simpati.
Rabu, 17 September 2025
Nona Singapura Tidak Bisa Cakap Melayu, Ketemu di GNI Bubutan
Siang ini Ayas mampir di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Jalan Bubutan Surabaya. Ada Makam dr Soetomo pahlawan nasional sekaligus pendiri GNI. Pendapanya terbuka sangat nyaman dan bersih.
Ada kantor Panjebar Semangat, majalah mingguan berbahasa Jawa yang didirikan dr Soetomo pada 2 September 1933. Sampai hari ini masih terbit meski pembacanya kian menua. Ayas punya dua kawan yang jadi redaktur hebat di PS.
Tiba-tiba datang gadis manis agak gemuk. Tionghoa. "Ada yang bisa saya bantu?" Ayas menyapa basa-basi ketika si nona manis mendekat.
Dia ngomong bahasa Inggris. Ouw, rupanya wisatawan asal Singapura. Dia bertanya tentang gedung ini, sejarahnya, dan sebagainya. Ayas pun menjawab sekenanya seperti pemandu wisata amatiran.
Syukurlah, informasi yang dipajang di pendapa GNI sangat lengkap. Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Ada foto-foto tua djaman doeloe yang sangat menarik. Ayas pun meminta Nona Singapura itu untuk membaca sendiri.
Ayas kembali ngopi sambil membaca berita-berita mentahan kiriman wartawan lalu disunting. Kemudian diunggah di portal berita.
Kebetulan berita lagi sepi selepas kerusuhan pada akhir Agustus lalu. Penangkapan maling-maling motor berkurang. Penangkapan geng-geng remaja juga nihil.
Ayas lalu merenung. Mengapa orang Singapura tidak bisa berbahasa Melayu? Padahal, katanya bahasa Melayu salah satu bahasa resmi Singapura selain bahasa Inggris dan Mandarin. Padahal, Negaraku, lagu kebangsaan Singapura ditulis oleh komponis Melayu dan berbahasa Melayu.
Ayas juga sering mengikuti pidato-pidato perdana menteri Singapura macam Lee Kuan Yew, Lee Hsien Loong dalam bahasa Melayu. Sangat fasih dan jelas.
Naga-naganya bahasa Melayu tidak dianggap penting di Singapura. Bahasa Inggris yang utama. Bahasa Mandarin dan Hokkien mungkin nomor 2. Orang Tionghoa rupanya tidak punya minat sama sekali belajar bahasa Melayu.
Nona Singapura itu serius banget membaca narasi-narasi di pendapa GNI yang disusun secara kronologis. Kemudian melanjutkan jalan kaki ke Tugu Pahlawan.
Orang Surabaya sekalipun sangat jarang jalan kaki sejauh itu dari Tunjungan, Bubutan, Ampel, Kembang Jepun, Rajawali dan sebagainya. Apalagi membaca cerita-cerita sejarah yang terkait dengan bangunan cagar budaya.
Sembahyang Tutup Peti Oei Hiem Hwie Dipimpin Pater Thomas Bani SVD
Tokoh literasi, wartawan era Orde Lama, Soekarnois tulen, Oei Hiem Hwie tutup usia. Ayas sangat kehilangan. Penggemar buku-buku, majalah, koran, tempo doeloe di Surabaya juga kehilangan besar.
Ayas sering mampir menemui Om Oei di Perpustakaan Medayu Agung, kawasan Rungkut Surabaya. Setiap kali gowes pagi ke hutan bakau wisata mangrove Gunung Anyar biasanya mampir.
Ada saja bahan yang dibahas Oei Hiem Hwie. Cerita-cerita tentang pengalamannya di Pulau Buru paling menarik. Mantan wartawan koran Trompet Masjarakat itu (kantornya dekat Tugu Pahlawan) dibuang selama 8 tahun di Buru.
Oei yang lahir di Malang ditangkap di Malang, dibawa ke Nusa Kambangan tiga bulan lalu dibuang ke Pulau Buru. Ia dianggap orang kiri, Soekarnois, pengurus Baperki.
"Saya ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru tanpa pengadilan," katanya.
Oei dan ribuan tahanan politik, narapidana politik, sudah hilang asa. Merasa sudah selesai di Buru. Mati di pulau yang pada awal 1970-an masih liar itu. Tapi proyek orba itu dikecam dunia barat.
Tahun 1978 Oei dibebaskan. Setahun kemudian Pramoedya Ananta Tour dibebaskan. Oei yang menyediakan kertas, alat tulis agar Pram tetap bisa menulis novel atau apa saja di Pulau Buru. Manuskrip-manuskrip asli Pram pun disimpan dan disembunyikan Oei.
Ayas, seperti biasa, tidak pernah menanyakan apa agama seseorang. Ayas menduga Om Oei jemaat kelenteng. Bisa Tridharma atau Buddha. Bisa juga Khonghucu.
Nasrani kayaknya bukan karena diksi-diksi yang diucapkan Oei jauh dari kata-kata yang biasa kita dengar dari orang Katolik, Protestan, Pentakosta, Karismatik, Advent dsb. Om Oei tak pernah bicara soal gereja atawa kekristenan sama sekali.
Ayas beberapa kali mampir di Medayu Agung pada Jumat pagi. Ngobrol biasa, tanya jawab, lalu Om Oei siap-siap berangkat ke Masjid Cheng Hoo Surabaya. Bersama salah seorang karyawannya.
Oh, berarti Om Oei ini mualaf. Seperti Haji Masagung tokoh muslim Tionghoa yang juga idola Oei Hiem Hwie, pikir Ayas.
Karena itu, Ayas agak terkejut saat mengikuti acara tutup peti mendiang Om Hwie di Adi Jasa Surabaya. Loh, ada Romo Thomas Bani SVD, Pastor Paroki Roh Kudus, Rungkut. Pater asal Belu NTT ini pastor paroki saya yang meliputi Kecamatan Rungkut dan Gunung Anyar.
"Salam damai, Pater!"
Ayas menyalami pater yang ramah ini. Pater tampak semangat.
Di Adi Jasa saat itu ada banyak akademisi Unair yang memang dekat dengan Om Oei. Ada Dr Dede Oetoemo, Dr Shinta Rahayu dosen dan sinolog terkenal, hingga tokoh-tokoh Tionghoa. Ada pula beberapa umat Katolik dari Paroki Roh Kudus.
Oh, ternyata Om Oei ini Katolik. Dua hari kemudian dikremasi di Kembang Kuning. Ibadat cara Katolik juga.
Orang Tionghoa memang paling luwes. Sangat fleksibel. Tidak fanatik. Sering sulit ditebak apa agamanya. Lahir sebagai umat kelenteng, belajar di sekolah Katolik kadang jadi katekumen, dewasa bisa jadi mualaf, kemudian berpulang dan dimakamkan secara Katolik.
Toh, Tuhan Allah hanya satu, bukan?
Selamat jalan, Om Oei!












