Sabtu, 03 Januari 2026

Natalan sekaligus nostalgia di Malang bersama Karin dan Dewi

 


Sesekali ngajak Karin wisata sejenak di Malang. Keponakan Ayas ini kuliah di Stikes RKZ Surabaya. Anaknya sejak kecil paling malas jalan-jalan. Lebih suka membaca buku atau baca apa saja di kamar.

Ayas pikir Karin tidak mau berlibur sejenak di Malang. Ternyata mau. Bahkan dia ajak Dewi temannya satu kelas di RKZ. Dewi ini asli Papua, Serui, tapi namanya sangat Jawa. Anaknya lincah, ceria, senang bercanda. 

Karin pendiam tapi suka tertawa lepas jika ada yang dirasa lucu. Kawan-kawannya sudah berhenti tertawa, dia masih hahaha. Unik.

Liturgi Natal dipusatkan di Gereja Kayutangan yang ikonik itu. Karin dan Dewi minta misa kedua yang bubarnya hampir 24.00. 

"Sonde apa-apa. Beta biasa misa malam Natal yang paling akhir di Kupang," kata Karin.

Putra pasutri asli Lembata tapi baru sekali datang ke Pulau Lembata. Karena itu, sejak bayi sampai mahasiswa gaya bahasanya Melayu Kupang. Bahasa Lamaholot yang digunakan di Lembata tidak bisa.

 Karin malah lebih suka belajar bahasa Inggris intensif di English Village ketimbang belajar bahasa daerah ibu bapaknya. Bahasa daerah, apalagi Lamaholot, memang sering dianggap tidak relevan di era globalisasi.

Sorenya kita jalan-jalan sekitar Bundaran Tugu, depan Balai Kota, mampir sejenak di kompleks SMAN Tugu yang ada tiga sekolah tua itu. Ayas nostalgia di Mitreka Satara atawa SMAN 1 Malang.

"Beta punya teman satu kos sekarang jadi pejabat sangat penting di Pemprov NTT. Dulu dia di SMAN 4 Malang," kata sang paman kepada keponakan. Sekadar nostalgia tipis-tipis.

Ayas kemudian ajak mampir ke warkop di dekat Balai Kota dan DPRD Kota Malang. Bella Vista nama gedungnya. Sekarang sudah kusam. Jadi kafe anak muda malam hari. Di sebelahnya ada warungnya Bu Tiami. Sejak dulu Ayas sering mampir di sini. Bahkan kalender yang dipajang di warung itu biasanya Ayas yang bagi.

"Puji Tuhan, enak juga makanan di Malang ini," kata Dewi yang tinggal di Asrama Mahasiswi RKZ. Maklum, anak asrama biasanya sering mengeluhkan makanan massal yang terasa hambar karena kurang bumbu.

Misa di Kayutangan dipimpin Romo Yoris OCarm. Imam Karmelit ini berasal dari Ende Flores. Dari dulu imam-imam yang bertugas di Kayutangan memang berasal dari Flores atau NTT (Nasib Tidak Tentu).

Romo Yoris rupanya bisa menebak asal seseorang dengan melihat roman muka, rambut, warna kulit, postur dsb. Saat bersalaman dengan Dewi di halaman gereja, dia berkata, "Kamu dari Serui ya?"

Dewi pun menjawab iya.

 "Dari mana romo tahu?" Ayas bertanya.

"Saya cukup lama bertugas di Serui. Jadi, saya bisa membedakan mana orang Serui dan bukan," katanya.

Suasana makin cair. Romo Yoris pun sedikit nostalgia pastoralnya di Serui. Ayas dan Karin mendengar dengan takjub. Rupanya pengalaman di Serui cukup berkesan.

 Itulah the power of nostalgia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar