Minggu, 19 April 2026
Ingat Himne Flobamora di Depan Lapak Sei Babi di Malang
Sabtu, 18 April 2026
Mampir Ngopi di Warkop Bu Paima Nikmati Bella Vista yang Makin Parah
Sudah pasti dekat juga dengan Balai Kota Malang. Sayang, kondisi bangunan Bella Vista makin muram. Benar-benar tidak terurus. Meski belakangan digunakan kafe anak muda, kondisinya tidak lebih baik.
Ayas jadi ingat era 90-an. Gedung itu masih dianggap mewah, elite di tengah Kota Malang. Banyak turis bule yang nginap di situ. Kita orang hanya bisa memandang dari luar pagar.
"Kayaknya ada sengketa waris," kata seorang bapak yang biasa main catur di Warkop Bu Paima. "Makanya masih status quo."
Di mana-mana nasib bangunan tua atau cagar budaya selalu begitu. Ada saja sengketa perdata rebutan para ahli waris. Saling klaim di pengadilan. Akhirnya bangunan jadi telantar. Lama-lama rusak dan hilang.
Kalau tidak salah bangunan tua itu digunakan sebagai kampus. STT Atlas Nusantara kalau tidak salah. Kampus itu kemudian pindah ke Arjosari dekat terminal.
Sejak itulah eks Bella Vista jadi merana. Masih lumayan beberapa tahun terakhir dimanfaatkan warkop-warkop hingga pangkalan pekerja gig atawa tukang ojek online.
Bu Paima yang paling awet. Makanannya dari dulu rasanya sama. Begitu juga pisang gorengnya yang khas. Kopi racikannya juga beda dengan kopi di warkop-warkop di Surabaya dan Sidoarjo.
Sore ini ada beberapa gadis langsing usia di bawah 20-an. Rambut mereka dicat ala artis Korea. Wangi pula. Rupanya mereka bakal ada live music malam hari.
"Om nonton aja sambil ngopi-ngopi," kata salah seorang cewek yang doyan nyedot vape.
"Waduh, Om wis tuwir. Senangane lagu-lagu lawas kayak Ida Laila dan Mansyur S," kata Ayas pesi-pesi aja.
Bu Paima memang suka banget muter radio spesialis ndangdut di Ngalam. Ayas pun jadi terbiasa dengar dangdut-dangdut lawas ala Ida Laila, Mansyur S, Meggy Z, Rhoma Irama hingga generasi baru Lesti Kejora, Nella Kharisma, Via Vallen.
Hidup Jokowi, eh...
Sabtu, 03 Januari 2026
Natalan sekaligus nostalgia di Malang bersama Karin dan Dewi
Sesekali ngajak Karin wisata sejenak di Malang. Keponakan Ayas ini kuliah di Stikes RKZ Surabaya. Anaknya sejak kecil paling malas jalan-jalan. Lebih suka membaca buku atau baca apa saja di kamar.
Ayas pikir Karin tidak mau berlibur sejenak di Malang. Ternyata mau. Bahkan dia ajak Dewi temannya satu kelas di RKZ. Dewi ini asli Papua, Serui, tapi namanya sangat Jawa. Anaknya lincah, ceria, senang bercanda.
Karin pendiam tapi suka tertawa lepas jika ada yang dirasa lucu. Kawan-kawannya sudah berhenti tertawa, dia masih hahaha. Unik.
Liturgi Natal dipusatkan di Gereja Kayutangan yang ikonik itu. Karin dan Dewi minta misa kedua yang bubarnya hampir 24.00.
"Sonde apa-apa. Beta biasa misa malam Natal yang paling akhir di Kupang," kata Karin.
Putra pasutri asli Lembata tapi baru sekali datang ke Pulau Lembata. Karena itu, sejak bayi sampai mahasiswa gaya bahasanya Melayu Kupang. Bahasa Lamaholot yang digunakan di Lembata tidak bisa.
Karin malah lebih suka belajar bahasa Inggris intensif di English Village ketimbang belajar bahasa daerah ibu bapaknya. Bahasa daerah, apalagi Lamaholot, memang sering dianggap tidak relevan di era globalisasi.
Sorenya kita jalan-jalan sekitar Bundaran Tugu, depan Balai Kota, mampir sejenak di kompleks SMAN Tugu yang ada tiga sekolah tua itu. Ayas nostalgia di Mitreka Satara atawa SMAN 1 Malang.
"Beta punya teman satu kos sekarang jadi pejabat sangat penting di Pemprov NTT. Dulu dia di SMAN 4 Malang," kata sang paman kepada keponakan. Sekadar nostalgia tipis-tipis.
Ayas kemudian ajak mampir ke warkop di dekat Balai Kota dan DPRD Kota Malang. Bella Vista nama gedungnya. Sekarang sudah kusam. Jadi kafe anak muda malam hari. Di sebelahnya ada warungnya Bu Tiami. Sejak dulu Ayas sering mampir di sini. Bahkan kalender yang dipajang di warung itu biasanya Ayas yang bagi.
"Puji Tuhan, enak juga makanan di Malang ini," kata Dewi yang tinggal di Asrama Mahasiswi RKZ. Maklum, anak asrama biasanya sering mengeluhkan makanan massal yang terasa hambar karena kurang bumbu.
Misa di Kayutangan dipimpin Romo Yoris OCarm. Imam Karmelit ini berasal dari Ende Flores. Dari dulu imam-imam yang bertugas di Kayutangan memang berasal dari Flores atau NTT (Nasib Tidak Tentu).
Romo Yoris rupanya bisa menebak asal seseorang dengan melihat roman muka, rambut, warna kulit, postur dsb. Saat bersalaman dengan Dewi di halaman gereja, dia berkata, "Kamu dari Serui ya?"
Dewi pun menjawab iya.
"Dari mana romo tahu?" Ayas bertanya.
"Saya cukup lama bertugas di Serui. Jadi, saya bisa membedakan mana orang Serui dan bukan," katanya.
Suasana makin cair. Romo Yoris pun sedikit nostalgia pastoralnya di Serui. Ayas dan Karin mendengar dengan takjub. Rupanya pengalaman di Serui cukup berkesan.
Itulah the power of nostalgia.

