Minggu, 19 April 2026

Ingat Himne Flobamora di Depan Lapak Sei Babi di Malang


Uploaded Image



Beta pagi ini jalan kaki cukup jauh di Malang. Uklam tahes - jalan sehat. Lalu rehat sejenak persis di depan lapak Flobamora, Jalan Pattimura Klojen. Lapak itu jualan sei dan sate babi khusus malam hari.

Sudah lama bisnis khas Timor NTT ini buka di Malang. Bahkan punya beberapa cabang. Salah satunya di Oro-Oro Dowo. Pemiliknya orang Kupang.

Sei babi artinya daging babi asap. Sangat terkenal di NTT, khususnya Kupang. Di Lembata Island tidak ada model babi asap. Saking larisnya di Kupang, produksi sei sangat tinggi.

Jika lewat di sejumlah ruas jalan di Kupang, Anda pasti melihat orang jual daging babi asap mentah di pinggir jalan. Cepat habis. Kalo sonde cepat sonde dapat na, kata teman di Kupang.

Dulu daging sapi lebih mahal dan laris. Lama-lama kalah sama babi. Meskipun dinyatakan sebagai makanan haram oleh Yahudi dan Islam, mayoritas orang NTT yang bukan Islam sangat doyan makan B2 ini. Karena itu, sekarang harga daging babi lebih mahal di NTT. 

Beta hampir selalu mampir ke Klojen kalau ke Malang. Maklum, markas teman-teman beta alumni satu kelas A1-3 Smansa dulu di Prapatan Klojen. Di Koopen Cafe yang cukup terkenal milik Sam Ngopi alias Mas Ipong. Tidak jauh dari lapak sei babi itu.

Nah, kalau membaca tulisan FlOBAMORA besar-besar itu beta selalu ingat kampung halaman nan jauh di mata. Flobamora akronim dari Flores, Sumba, Timor - tiga pula besar di NTT. Orang NTT biasa menyebut provinsinya dengan Flobamora.

Dulu beta kecil masih SD di kampung pelosok Lomblen Island lagu Flobamora mulai diperkenalkan sebagai himne Provinsi NTT. Ada lomba paduan suara antarsekolah tingkat kecamatan. 

Beta jadi dirigen. Hasilnya kalah karena teman-teman banyak yang gemetar nyanyi di depan orang banyak. Dirigen juga ikut gemetar. Paduan suara jadi tidak bagus. Bahkan ada yang lupa syair.

Flobamora tanah airku yang tercinta 
Tempat beta dibesarkan ibunda
Meski sudah lama jauh di rantau orang
Beta ingat mama janji pulang e....

Sabtu, 18 April 2026

Mampir Ngopi di Warkop Bu Paima Nikmati Bella Vista yang Makin Parah




Ayas dari dulu biasa mampir di Warkop Bu Paima di bawah pohon beringin. Satu kompleks dengan Bella Vista. Bangunan kolonial eks vila itu persis di samping kantor DPRD Kota Malang.

Sudah pasti dekat juga dengan Balai Kota Malang. Sayang, kondisi bangunan Bella Vista makin muram. Benar-benar tidak terurus. Meski belakangan digunakan kafe anak muda, kondisinya tidak lebih baik.

Ayas jadi ingat era 90-an. Gedung itu masih dianggap mewah, elite di tengah Kota Malang. Banyak turis bule yang nginap di situ. Kita orang hanya bisa memandang dari luar pagar.

"Kayaknya ada sengketa waris," kata seorang bapak yang biasa main catur di Warkop Bu Paima. "Makanya masih status quo."

Di mana-mana nasib bangunan tua atau cagar budaya selalu begitu. Ada saja sengketa perdata rebutan para ahli waris. Saling klaim di pengadilan. Akhirnya bangunan jadi telantar. Lama-lama rusak dan hilang.

Kalau tidak salah bangunan tua itu digunakan sebagai kampus. STT Atlas Nusantara kalau tidak salah. Kampus itu kemudian pindah ke Arjosari dekat terminal.

Sejak itulah eks Bella Vista jadi merana. Masih lumayan beberapa tahun terakhir dimanfaatkan warkop-warkop hingga pangkalan pekerja gig atawa tukang ojek online.

Bu Paima yang paling awet. Makanannya dari dulu rasanya sama. Begitu juga pisang gorengnya yang khas. Kopi racikannya juga beda dengan kopi di warkop-warkop di Surabaya dan Sidoarjo. 

Sore ini ada beberapa gadis langsing usia di bawah 20-an. Rambut mereka dicat ala artis Korea. Wangi pula. Rupanya mereka bakal ada live music malam hari.

"Om nonton aja sambil ngopi-ngopi," kata salah seorang cewek yang doyan nyedot vape.

"Waduh, Om wis tuwir. Senangane lagu-lagu lawas kayak Ida Laila dan Mansyur S," kata Ayas pesi-pesi aja.

Bu Paima memang suka banget muter radio spesialis ndangdut di Ngalam. Ayas pun jadi terbiasa dengar dangdut-dangdut lawas ala Ida Laila, Mansyur S, Meggy Z, Rhoma Irama hingga generasi baru Lesti Kejora, Nella Kharisma, Via Vallen. 

Hidup Jokowi, eh...
Hidup dangdut!