Saya naik tangga itu. Setengah ragu. Tapi juga penasaran. Tangga tua itu memanggil. Seperti bisikan dari masa lalu.
Ini Jalan Gula. Di Surabaya. Tempat para pedagang gula dan rempah dulu berjaya. Kini yang tersisa hanya puing, cat yang mengelupas, dan tangga tua yang entah menuju ke mana.
Maureen Nuradhi, dosen dari UC Surabaya, datang ke sini beberapa waktu lalu. Bersama komunitas pencinta sejarah. Ia berdiri di depan tangga itu, lama.
Saya tahu, Maureen tidak sedang menghitung jumlah anak tangganya. Ia sedang mendengarkan bisu sejarah yang bergema di situ.
Tulis Bu Dosen itu: "Sebuah tangga tua, selalu menimbulkan perasaan yang campur aduk. Misteri di ujungnya. Kenangan peristiwa lebih dari seratus tahun yang membekas di semua anak tangganya."
Saya diam. Saya mengerti perasaan itu. Saya juga merasakannya.
Di tikungan Jalan Gula itu, ada ibu penjual kopi. Namanya Munawaroh. Asalnya dari Madura. Orang sini memanggilnya Bu Muna. Ia sudah lama tahu kalau tangga itu punya daya tarik.
"Banyak anak muda datang. Foto-foto. Ada yang buat prewedding juga," katanya.
Saya tanya, "Pernah ada yang aneh?" Ia tertawa kecil.
"Saya sih nggak pernah lihat apa-apa. Tapi suami saya... katanya sering lihat 'beberapa orang'."
Saya tidak tanya lebih jauh, karena Bu Muna sendiri tidak tampak ingin membahasnya lebih dalam. Lagi pula, siapa yang bisa benar-benar tahu siapa yang turun naik tangga itu di malam hari?
Tak jauh dari situ, di Jalan Karet nomor 54, ada bangunan tua lain. Sudah lama kosong. Pernah jadi gudang. Kini mangkrak. Seperti menunggu takdir. Seperti menyimpan cerita yang belum sempat diceritakan.
Surabaya punya banyak tangga seperti itu. Tangga-tangga tua yang bukan sekadar akses ke lantai atas. Tapi juga akses ke masa lalu. Dan mungkin... ke dunia lain.