Jumat, 20 September 2019

Pasal Kumpul Kebo, Selingkuh, Mbalon



Pemerintah dan parlemen rupanya punya komitmen untuk menegakkan moral rakyat Indonesia. Jangan ada (lagi) orang Indonesia yang hidup bersama di luar pernikahan yang sah. Istilah sekarang: kohabitasi. Istilah lawas: kumpul kebo. Lebih lawas lagi: samen leven.

Karena itulah, KUHP yang baru ada pasal khusus untuk kohabitasi. Kepala desa atau kepala kampung bisa melaporkan pasangan yang kumpul kebo di kampungnya. Misalnya, kamar-kamar kos dijadikan tempat gendakan.

Istri atau suami bisa melapor jika mengetahui pasangannya selingkuh. Misalnya ngamar di hotel atau vila. Lalu diproses hukum.

Bagaimana kalau yang diajak ngamar itu purel atau PSK? Kena pasal juga? Kelihatannya kena. Sebab pasal kohabitasi ini rada ngaret.

Bagaimana kalau turis dari Amerika atau Eropa yang belum terikat pernikahan ngamar bareng di hotel? Apakah nanti resepsionis harus tanya surat nikah tamu-tamunya? Agar tidak dibuat ngamar bareng pasangan yang bukan suami istri?

Ini yang rupanya jadi bahan gunjingan seputar RUU KUHP karya anak bangsa pengganti KUHP tinggalan Belanda itu. Kelihatannya pemerintah + dewan sangat concern pada moral bangsa. Tidak ingin anak bangsa mengalami degradasi moral. Bagus lah.

Pasal kohabitasi alias kumpul kebo ini sebetulnya sama dengan perda-perda di sejumlah daerah. Sama pula dengan qanun di Aceh. Sama-sama merujuk pada syariah. Beda dengan KUHP Belanda yang dianggap tidak bisa menjerat para pelaku kumpul kebo, pelacuran, perzinaan dsb.

Tapi bagaimana penerapan di lapangan nanti? Bagaimana dengan pasangan nikah siri? Pasangan kawin kampung yang diakui adat di NTT, misalnya, tapi belum sah sesuai hukum negara? 

Bagaimana dengan para gepeng yang bertahun kumpul kebo karena kesulitan mengurus pernikahan siri + pernikahan resmi?

"Jangan dipelintir ya! Kami sama sekali tidak punya maksud untuk memasukkan jutaan orang ke dalam penjara. Sekarang saja penjara sudah penuh," kata Menkumham Yasonna Laoly di televisi beberapa menit lalu.

Masalahnya, pasal soal kumpul kebo, gelandangan dihukum denda jutaan rupiah (duit dari mana?), ayam masuk halaman orang dsb sudah kadung bikin kita geleng-geleng kepala. Belum lagi masalah KPK, kebakaran hutan yang berulang, hingga menpora jadi tersangka korupsi.

Liem Ou Yen dan Sempoa Tiongkok

Rabu lalu, 18 September 2019, saya menemui Liem Ou Yen di Jalan Kembang Jepun 46 Surabaya. Tokoh Tionghoa ini baru saja pulang dari Tiongkok. Mendampingi beberapa doktor dan profesor pakar Islam untuk konferensi internasional tentang Islam di Tiongkok.

"Biasalah... saya jadi penerjemah bahasa Mandarin. Tapi seminar juga pakai bahasa Inggris," kata pengusaha yang aktif mengurus paguyuban dan organisasi sosial Tionghoa di Surabaya itu.

Liem Ou Yen lantas bercerita banyak tentang sejumlah situs menarik di Tiongkok yang ada kaitan dengan Islam. Maklum, selama ini Liem selalu menemani para kiai atau ulama NU, Muhammadiyah, MUI, PITI dsb untuk studi banding di Tiongkok. "Masjid di Tiongkok itu besar-besar dan bagus-bagus. Sangat modern," katanya.

Tapi saya lebih tertarik pada sempoa. Alat hitung khas Tionghoa ini selalu ada di depan bos UD Gunung Mas itu. Unik dan menarik. Di era digital ini, ternyata pengusaha Tionghoa sekelas Liem Ou Yen masih menggandalkan sempoa ketimbang kalkulator, komputer, atau aplikasi kalkulator di ponsel dalam mengelola bisnisnya.

"Saya punya kalkulator, tapi saya lebih suka pakai sempoa. Menghitung pakai sempoa itu pasti lebih cepat dan akurat," ujar Liem seraya tersenyum.

Liem kemudian meminta seorang tamunya menghitung dengan kalkulator. Liem juga menghitung pakai sempoa kesayangannya. Hasilnya, dalam waktu singkat Liem sudah menyelesaikan hitungannya. Sementara sang tamu baru selesai beberapa menit kemudian.

"Singkatnya, kalau kita sudah tahu cara pemakaiannya, maka menghitung dengan sempoa itu pasti lebih cepat dan hasilnya benar. Kemungkinan salah sangat kecil karena bilangan satuan, puluhan, ratusan, ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan bisa kita lihat di sempoa," ujarnya.

Liem Ouyen sendiri tidak menafikan kecanggihan kalkulator dan alat hitung modern lain, termasuk komputer. Hanya saja, menurut dia, hasil hitungan bisa keliru jika entry datanya salah. Belum lagi kalau terjadi gangguan (error) atau baterai lemah.

"Sempoa tidak pakai baterai atau listrik. Jadi, kemungkinan keliru hampir tidak ada," katanya.

Selain alasan praktis, menurut koordinator Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya ini, alat hitung tradisional sempoa ini bisa membantu meningkatkan kualitas memori seseorang. Orang tidak cepat lupa atau pikun. Dan, itu dirasakan betul oleh pria kelahiran Muara Teweh, Kalimantan Tengah, 31 Juli 1945, itu.

"Saya ini walaupun sudah tidak muda, tapi tidak cepat lupa. Saya bisa mengingat dengan cepat, ya, antara lain karena tiap hari menggunakan sempoa," katanya.

Karena itu, Liem mengusulkan agar para pelajar, khususnya murid sekolah dasar, diberi pelajaran berhitung dengan sempoa. Jangan membiarkan anak-anak termanja dengan kalkulator. Apalagi cuma main copy paste di internet.

"Waktu kami sekolah dulu, sempoa ini menjadi alat peraga dalam pelajaran berhitung. Dan saya masih merasakan manfaatnya sampai sekarang," katanya.

Minggu, 15 September 2019

Acara Kue Bulan di Kenjeran



"Acara kue bulannya kapan?" tanya saya kepada seorang nona Tionghoa di Kelenteng Sanggar Agung, Kenjeran, Surabaya.

"Kue bulan opo? Gak tau," jawab si nona sambil main ponsel.

Ada lagi beberapa pengunjung yang saya tanya. Tionghoa juga. Tapi tidak tahu juga. Hem... mungkin mereka cuma wisatawan biasa. Bukan jemaat kelenteng di pinggir laut itu. Bisa juga agamanya tidak ada hubungan dengan tradisi budaya Tiongkok.

Untung ada Bapak Teguh. Orang Tionghoa yang tinggal di Kalikepiting. Dia pegang kertas-kertas kuning berisi tulisan Tionghoa. Doa untuk keselamatan, katanya. Pak Teguh yang sangat paham acara kue bulan tadi.

"Acaranya Jumat malam (13/9/2019). Pas bulan purnama. Sembahyangan dan bazar kuliner nusantara," kata Teguh yang banyak bicara spiritualitas Tao itu. "Anak-anak Tionghoa sekarang memang banyak yang lupa tradisi leluhurnya. Kebarat-baratan."

Pesta kue bulan atau Mooncake Festival memang selalu dirayakan saat bulan purnama. Bulan kedelapan penanggalan Tionghoa yang berbasis bulan alias Imlek itu. Tanggal 15.

 Karena itu, orang Tionghoa yang biasa pigi sembahyang di kelenteng pasti tahu acara Tiong Chiu Jie yang ada kue bulan alias Tiong Chiu Pia itu. Nona-nona Tionghoa tadi bisa dipastikan tidak pigi sembahyang di kelenteng. Mungkin pigi gereja atau pigi wihara. Mungkin juga tidak pigi-pigi.

Dulu, biasanya Sanggar Agung ini bikin festival bulan purnama. Besar-besaran. Ada panggung gembira, artis dari Tiongkok atau dalam negeri, atraksi barongsai, bazar kuliner dsb. Kemudian ada pelepasan lampion harapan.

"Sekarang ini sembahyangan biasa saja," kata Teguh yang banyak tahu sejarah dewa-dewi Tiongkok itu.

Yang bikin ramai di kawasan Kenjeran Park alias Pantai Ria, dekat kelenteng, justru festival musik jazz. Sabtu dan Minggu. Banyak artis dan band yang tampil meskipun sebagian besar bukan aliran jazz.

Didi Kempot dan Raisa jadi bintang hari pertama. Sayang, tiket sudah ludes sejak pekan lalu. "Maaf, tiketnya sudah sold out. Saya tidak bisa bantu," kata Aris panitia dari Suara Surabaya FM.

Apa boleh buat. Saya hanya bisa duduk dan ngobrol bersama Pak Teguh yang banyak bicara soal kebatinan, surga dan neraka, naga hijau, naga merah dsb.

 "Manusia itu sering lupa sama Yang di Atas," katanya. "Terlalu banyak menghabiskan waktu untuk senang-senang, hura-hura, lupa sembahyang." 

Sabtu, 14 September 2019

Bos Bayar Parkir Rp 700.000

Dahlan Iskan baru menulis tentang jalan-jalan di Eropa. Yang bikin saya terkesan ada dua: jalan kaki dan parkir.

"Di Belfast saya mendapat hotel di pusat kota. Di depan gereja tua. Hotel ini tidak punya tempat parkir. Ada gedung parkir. Tiga blok dari sini, ujar petugas hotel.

Saya pun parkir di situ. Ongkos parkirnya: 20 pound. Sekitar Rp 300 ribu. Ya sudah. Masih lebih murah dari parkir di Washington DC tiga bulan lalu. Yang Rp 700 ribu itu," tulis Bos Dahlan, Sabtu 14 September 2019.

Kita di Surabaya atau Jakarta pasti heran. Hotel kok tidak punya tempat parkir? Tamu-tamu harus parkir cukup jauh. Terpaut tiga blok.

Bisa dipastikan hotel itu akan mati kalau di Indonesia. Mana ada tamu yang mau parkir jauh dari hotel? Orang Indonesia maunya parkir sangat dekat dengan hotel, gedung, pertemuan, kantor, toko, pusat kuliner, atau tempat ibadah.

Sudah banyak hotel atau penginapan yang tutup gara-gara tidak punya tempat parkir. Gereja-gereja lama pun banyak yang kehilangan jemaat. Pindah ke gereja-gereja baru yang kebaktiannya di hotel atau convention hall. Salah satu sebabnya ya lahan parkir itu tadi.

Pekan lalu kami mengikuti gathering di Trawas, Mojokerto. Saya bertemu beberapa pengelola vila di pegunungan yang sejuk itu. "Parkirnya langsung di dalam, Mas," katanya.

Parkir motor dan mobil di dalam kamar? Begitulah salah satu nilai plus vila atau hotel di pegunungan. Dus, tidak perlu jalan kaki 50 meter atau 100 meter ke kamar tidur.

Sepeda motor bahkan bisa dimasukkan ke dalam kamar. Nyaman banget... ala Indonesia. Juga tidak perlu bayar parkir sampai Rp 300 ribu atau Rp 700 ribu kayak di Eropa atau Amerika.

Akar masalahnya tidak lain hilangnya kebiasaan jalan kaki. Beli sabun atau minyak goreng pun harus naik motor. Padahal jaraknya tidak sampai 20 meter. Seperti parodi-parodi Sascha dari Kanada di YouTube itu.

Sascha sendiri bikin gebrakanyr dengan jalan kaki dari Jakarta ke Denpasar. Lebih tepatnya jalan kaki dengan sepatu roda. Ternyata kaki manusia yang kelihatan lemah itu bisa dipakai untuk berjalan sangat jauh.

Gara-gara orang Indonesia malas jalan kaki, banyak pengusaha yang bikin layanan drive thru. Orang tidak perlu turun dari mobil. Membeli ayam tepung cukup buka kaca mobil... beres.

Ngurus perpanjangan SIM juga ada layanan drive thru di Jalan Ahmad Yani Surabaya. Luar biasa memang orang Indonesia!

Jumat, 13 September 2019

Hilang minat nonton sepak bola

Persebaya lagi main lawan Kalteng Putra. Masih imbang. Banyak orang nonton bareng di kafe kawasan Rungkut, Surabaya, Jumat 13 September 2019. Tapi saya kehilangan selera menonton balbalan jowo - istilahnya Mas Arif, mantan wartawan sepak bola.

"Percuma nonton balbalan jowo," katanya. Teman asli Malang ini kemudian menyebut begitu banyak kebobrokan di sepak bola Indonesia.

Sudah lama saya diingatkan Arif soal balbalan jowo ini. Tapi saya masih sering nonton di televisi. Kadang langsung di stadion kalau di Sidoarjo. Ada keasyikan nonton langsung di lapangan. Bisa teriak-teriak dan maki-maki pemain, pelatih, atau suporter lawan. 

Ujaran kebencian atau caci maki tidak berlaku di stadion. Penjara bisa penuh kalau suporter yang misuh-misuh. Negara bisa bangkrut karena harus memberi makan para suporter yang dijerat pasal ujaran kebencian.

Nah, minat nonton balbalan jowo akhirnya hilang setelah menyaksikan laga timnas senior kita lawan Malaysia dan Thailand. Benar-benar hancur. Babak belur. Level permainan kita masih di bawah Malaysia dan Thailand. Jangan-jangan Indonesia sekarang satu tingkat dengan Timor Leste?

Apa gunanya Liga 1 kalau pemain-pemainnya memble di timnas? Pesepak bola yang tidak sanggup bermain selama 90 menit? Tidak bisa berlari mengejar bola karena napasnya habis?

Syukurlah, sekarang internet menawarkan begitu banyak pilihan. Video-video konser musik di Youtube sangat banyak. Saat Persebaya main, saya justru menonton rekaman wawancara Rhoma Irama dengan Alvin Adam. 

Saya jadi tahu artis idola Bang Haji ternyata Broery Marantika dan Tom Jones.

Babu Cantik di Brunei

Ada foto menarik tentang perjalanan di Brunei Darussalam yang dimuat Jawa Pos. Lapak semacam pujasera penjual jajan pasar. Tulisannya: KUIH MALAYA BABU CANTIK.

Hem... babu cantik!

Rupanya kata BABU di Brunei sifatnya netral. Tidak terkesan merendahkan orang yang bekerja sebagai pelayan atau pembantu. Malah dijadikan tagline untuk usaha kuliner jajan pasar.

Beda dengan di Indonesia. Kata BABU atau BATUR sangat dihindari di Indonesia. Cuma dipakai sang majikan untuk memaki-maki pembantu rumah tangga yang jahat. Misalnya pembantu curi uang, perhiasan, atau barang-barang di rumah lalu melarikan diri.

Babu memang kata asli bahasa Melayu yang kita angkat jadi bahasa Indonesia. Sebagian orang Indonesia paham artinya. Kecuali orang-orang kampung di pelosok NTT yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Kayak saya dulu di daerah Lembata. Sampai SMP pun susah berbahasa Indonesia karena tiap hari hanya berbahasa Lamaholot.

Nah, rupanya dalam perjalanan waktu kata BABU itu berubah nilai rasanya. Dari netral menjadi kasar atau tidak sopan. Istilah anak sekolahnya: mengalami peyorasi. Karena itu, kata babu selalu dihindari dalam percakapan dan tulisan sehari-hari di Indonesia.

Di media massa, khususnya koran, biasa dipakai PRT: pembantu rumah tangga. Tapi itu pun dianggap kurang halus. Makanya diganti lagi menjadi ART: asisten rumah tangga. Padahal pembantu itu ya sama dengan asisten.

Kalangan aktivis perempuan malah tidak suka istilah PRT atau ART. Apalagi babu atau batur. Mereka menyebut pekerja sektor domestik. Domestic worker.

Dengan begitu, para ART alias pekerja domestik ini mendapat perlindungan dan hak-hak seperti pekerja di pabrik-pabrik. (Kata buruh juga dianggap kasar dan tidak sopan. Dipakailah pekerja atau karyawan/karyawati atau naker alias tenaga kerja.)

"Mereka harus punya standar upah minimum, jam kerja, dsb. Pekerja domestik itu berat lho," kata seorang aktivis perempuan di Surabaya.

Melihat spanduk kuliner di Brunei ini (juga Malaysia) kelihatan sekali betapa kata-kata Melayu yang semula netral kini sudah berubah rasa dan nuansa. Kata-kata pribumi malah sering dianggap kasar. Sedangkan kata-kata asing dianggap keren dan terhormat.

Orang lebih suka disebut driver taksi atau ojol ketimbang sopir taksi atau tukang ojek. Satpam-satpam lebih suka disebut sekuriti.

Konjen Mr Gu: Hongkong Makin Suram



Ada apa dengan Hongkong?

James Chu, orang Tionghoa asal Banyuwangi, yang sudah lama jadi warga negara itu belum cerita apa-apa. James lebih suka berbagi rekaman sedang main band. Lagu-lagu campursari, keroncong, atau tembang kenangan.

"Kita orang gak usah bahas demonstrasi dan sebagainya. Itu sudah biasa di Hongkong," katanya.

Sejak muda James terlempar ke Tiongkok karena masalah kewarganegaraan. Dampak PP 10. Dia jadi kuli di Wuhan sambil main musik dari kampung ke kampung. Sampai akhirnya buka usaha di Hongkong.

"Tapi jiwa saya tetap Indonesia. Kita orang selalu pulang kalau ada kesempatan," kata pengusaha + pemusik yang biasa menghibur para buruh migran alias TKI itu.

Lantas, apa sebetulnya yang terjadi di Hongkong?
Demo kok berminggu-minggu?
Minta merdeka dari Tiongkok?
Satu negara dua sistem bagaimana?

Berita-berita tentang gejolak di Hongkong muncul tiap hari di koran-koran Indonesia. Apalagi di internet. Bos Dahlan juga bolak-balik membahas di laman pribadinya. Termasuk cerita tentang Joshua Wong yang kendel itu.

"Bosan baca berita soal Hongkong. Gak menarik lagi," kata pembaca setia koran di pinggiran Surabaya.

Jumat pagi ini ada artikel di koran. Yang nulis Pak Kucing sapaan akrabnya. Konjen Tiongkok di Surabaya Gu Jingqi. Mr Gu tentu saja menjelaskan posisi politik Beijing.

"Hongkong yang awalnya makmur saat ini terus tenggelam dalam kekacauan dan kesuraman dalam pemberontakan," tulis Mr Gu.

"Itu membuat setiap orang Tiongkok yang memiliki hati nurani merasa sangat sedih."

Konjen yang berkantor di Jalan Mayjen Sungkono ini juga menengarai ada kekuatan Barat yang anti Tiongkok berkolusi dengan pengacau di Hongkong. Orang asing berkali-kali ditemukan di antara kerumunan pengunjuk rasa.

Sayang, saya tidak bisa bertanya ke Joshua Wong dan kawan-kawan untuk meminta tanggapan mereka atas artikel yang ditulis Pak Kucing ini. Joshua dkk juga pasti tidak membaca tulisan dalam bahasa Indonesia ini.

Tapi kelihatannya warga Hongkong yang berunjuk rasa itu lebih suka hidup dalam tatanan British ketimbang tatanan Zhongguo. Mereka juga lebih suka berbahasa Kanton ketimbang Mandarin.

Semoga "kesuraman dan kekacauan" ini segera berlalu. Dan selamat menikmati kue bulan.