Saya pun ditugaskan sebagai salah satu peserta penataran ini. Anggap saja ngecas baterai. Sudah sangat lama saya tidak ikut lokakarya bahasa Indonesia macam ini. Tapi karena ditugaskan ya.. mau tidak mau, suka tak suka, harus ikut.
Ada lima materi yang disajikan selama dua hari. Penggunaan BI di media massa, ejaan dan peristilahan, bentuk dan pilihan kata, kalimat dan paragraf, dan praktek, eh praktik penulisan berita.
Boleh dikata, materi-materi ini tidak ada yang baru. Setiap hari pekerja media selalu bergulat dengan kata, kalimat, judul, paragraf, dsb. Rutinitas. Ibarat mesin yang sudah punya SOP atawa prosedur tetap.
Ibarat sopir truk yang setiap hari menyetir truk di jalan raya, melewati rute panjang, yang diajari lagi cara menyetir yang baik dan benar. Aturan-aturan lalu lintas. Larangan-larangan di jalan raya.
Sopir yang bekerja rutin, bertahun-tahun, pun sering kena tilang karena melanggar aturan. Bukan karena tidak tahu, tapi ya serobot sana sini. Karena itu, polisi perlu melakukan operasi zebra, tilang, cipta kondisi, dan sebagainya.
Saking rutinnya menulis berita, bermain kata, wartawan-wartawan sering tidak bisa membedakan dsb (dan sebagainya) dan dst (dan seterusnya). Bahkan banyak pula media yang memakai 'dan lain sebagainya'. Kesalahan-kesalahan seperti inilah yang dikoreksi Badan Bahasa Jatim.
Media-media juga sering menyamakan INI dan ITU. Prof Dr Suyatno dari Unesa kemudian mengoreksi. Ternyata ada banyak sekali kesalahan bahasa di media-media di Jawa Timur. Bukan saja media-media kecil, tapi juga media besar yang punya reputasi nasional.
Dari lima pemateri, saya paling tertarik dengan Prof Suyatno. Pakar bahasa ini merupakan copy editor pertama Jawa Pos ketika masih berkantor di Kembang Jepun 167. Pertengahan 1980-an, masih pakai mesin ketik, belum komputer. Pracetak masih pakai film. "Capek," katanya.
Prof Suyantno menyajikan 41 kesalahan logika atau sesat pikir wartawan saat menulis berita. Di antaranya, argumentum ad hominem, pars pro toto alias gebyah uyah atau sebaliknya totum pro parte. Logika yang buruk ini membuat berita-berita di media massa jadi berantakan.
Hetty Palestina Yunani pembicara terakhir. Dia meminta peserta yang sebagian besar redaktur agar tidak terlalu terikat pada piramida terbalik. Bikin berita naratif dengan angle yang unik dan menarik. Tidak pasaran. Lupakan rumus 5W+1H. Menulis sebebas dan sekreatif mungkin.
Hetty ini dulu reporter saya. Sekarang dia tak lagi terikat dengan koran, majalah, tabloid, atau media massa mainstream. Maklum, Hetty dari dulu tidak mau terikat dengan aturan-aturan perusahaan seperti wajib ngantor paling lambat pukul 15.00, wajib nyetor 4 berita sehari, dsb.
"Kalau mindset Anda terlalu standar, ya berita-berita Anda tidak akan bagus. Cuma bikin penuh koran, tapi tidak akan dibaca orang," kata Hetty.
Gara-gara ikut lokakarya bahasa Indonesia ini, saya bisa bertemu lagi dengan Hetty Palestina. Lima tahun lebih saya tidak ketemu dan ngobrol sama putri mendiang RM Yunani, wartawan senior Surabaya Post itu.




