Sabtu, 11 Januari 2020

Tabebuya ternyata tidak aman

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sangat doyan taman. Sudah ratusan taman dibuatnya sejak jadi wali kota pada 2010. Taman taman taman...

Bu Risma memang cinta taman dan keindahan kota. Itu mulai terlihat sejak ia menjadi kepala dinas pertamanan. Keberhasilan membuat taman dan menjaga kebersihan kota itulah yang kemudian membuat Risma sangat terkenal. Lalu dijadikan calon wali kota. Dan menang... dua periode.

Di tangan Wali Kota Risma, pohon-pohon penaung di Surabaya pun berubah. Bukan lagi sekadar angsana (sono) atau trembesi. Tapi tabebuya dan beberapa pohon dari luar. Tabebuya bahkan jadi ikon baru Surabaya. Ada festival tabebuya yang heboh.

Saya sendiri tidak suka tabebuya dan pohon-pohon hias. Selera saya pohon-pohon besar yang daunnya lebat. Saya bisa duduk berlama-lama di bawah beringin atau trembesi atau pohon-pohon yang rindang.

Saya tidak butuh kembang-kembang yang indah. Tidak butuh tabebuya warna-warni. Tidak pernah selfi-selfian. Saya hanya butuh oksigen dan kesejukan. Bu Risma rupanya lebih suka yang indah-indah. Maklum perempuan.

Nah, bagaimana kekuatan tabebuya? Apakah cukup kuat diterjang angin kencang? Akarnya dalam?

Musim hujan kali ini jadi ujian terbaik untuk tabebuya. Ternyata sejumlah pokok tabebuya tumbang di awal tahun. Beritanya pun tersebar luas di media massa dan media sosial.

Pohon-pohon tabebuya di Surabaya relatif masih sangat muda. Belum 10 tahun. Akarnya belum kuat meskipun sudah tinggi. Bisa dibayangkan kalau dihantam angin kencang seperti dua minggu lalu.

''Tabebuya dengan diameter batang 60 cm dan tinggi 6 m roboh menimpa mobil.
Salah satu tanda penting pohon tabebuya sudah miring ke jalan,'' tulis Dr Amien Widodo, dosen ITS yang getol memantau kondisi pohon-pohon di Surabaya.

Saya jadi ingat asam jawa. Tanaman asam ini dijadikan pohon penaung utama di pinggir jalan oleh pemerintah Hindia Belanda. Yang ditanam bijinya. Butuh waktu puluhan tahun hingga jadi tanaman yang besar. Tapi akar-akarnya mencengkeram kuat jauh ke dalam tanah.

Orang Belanda, sang penjajah brengsek itu, ternyata sangat paham kondisi Nusantara yang tropis panas. Perlu pohon-pohon besar, kuat, sebagai penaung. Nusantara tidak butuh tanaman hias seperti tulip atau sakura atau tabebuya.

Karena itu, tidak heran tanaman asam jawa ini mampu bertahan hingga 80an tahun, bahkan 100 tahun. Sampai sekarang masih bisa kita nikmati di luar Jawa. Buah asam juga bisa dibuat bumbu masak dsb.

''Asam jawa pun bisa tumbang kalau tidak ada perawatan,'' kata Amien Widodo. Tak lupa dosen geologi itu menunjukkan foto asam jawa yang tumbang di Solo.

Ouw... perawatan perawatan! Minggu lalu sepasang suami istri tewas gara-gara ditimpa pohon tumbang di dekat kantor gubernur. Tak jauh dari Tugu Pahlawan.

Takdir, kata orang Nusantara. Ciong, kata Tionghoa.

Mau ciong atau takdir, tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah. Untuk mengecek dan merawat pohon-pohon besar dan tinggi di pinggir jalan. Warga juga perlu mengontrol pohon-pohon di samping rumahnya.

''Pohon-pohon di Surabaya tidak kuat karena akarnya tidak dalam,'' kata seorang insinyur.

Minggu, 05 Januari 2020

Misa di GYB bersama Pater Goris Kaha SVD

Tiap Minggu pagi Jalan Jemursari selalu ditutup untuk Car Free Day (CFD). Warga Surabaya bagian selatan diajak bakar lemak bareng-bareng. Jalan utama itu ditutup sampai pukul 09.00.

Saya lupa kalau Jalan Jemursari ditutup. Begitu juga dua atau lima orang lain. Apa boleh buat, harus nuntun motor ke Jemur Andayani. Tepatnya Gereja Katolik Gembala Yang Baik (GYB). 

Misa tinggal 25 menit lagi. Jalan kaki lebih cepat ketimbang memutar jauh. Pasti terlambat misa. Asyik juga jalan kaki ke gereja yang diasuh imam-imam SVD asal Flores NTT itu.

Minggu pagi itu cuaca mendung. Hawa sejuk. Dus, tidak banyak keringat saat sampai di belokan Jemur Andayani. Gereja GYB sudah dekat.

Deo gratias! Belum terlalu terlambat. Pater Gregorius Kaha SVD bersama putra-putri altar baru bergerak masuk ke dalam gereja. Kor yang diperkuat banyak anak muda asal Flores sedang menyanyikan lagu pembukaan: Dari Timur Jauh Benar.

Pesta Tiga Raja. Begitu istilah lama untuk menyebut ekaristi pada hari Minggu yang dekat 6 Januari. Temanya tentang tiga orang majus datang ke Bethlehem setelah melihat bintang di sebelah timur.

"Tiga majus itu mampu membaca tanda-tanda alam. Sementara kita di zaman modern ini sering tidak peka. Bahkan ramalan BMKG pun sering diabaikan," kata Pater Goris Kaha SVD. Sepertinya menyentil banjir besar di Jakarta.

Sudah sangat lama saya tidak bertemu Pater Goris yang asli Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur. Terakhir saya menemui beliau di Paroki Roh Kudus, Gununganyar, Surabaya, untuk mengambil jagung titi. Oleh-oleh khas Flores Timur dan Lembata.

Pater Goris kemudian belajar lagi di Eropa. Balik ke Surabaya ditempatkan di Paroki GYB, salah satu dari 6 paroki yang digembalakan imam-imam SVD di Surabaya dan Sidoarjo.

Meskipun sering bertemu beliau, baru kali ini saya ikut misa yang dipimpin Pater Goris Kaha SVD. Saat homili logat Lamaholot atau Flores Timur kurang terasa. Beda dengan pater-pater SVD lainnya yang sulit menghilangkan aksen bahasa ibunya saat berbahasa Indonesia.

Tidak banyak yang saya ingat dari khotbah Pater Goris. Cuma cerita dari Tanah Batak (katanya) tentang suami istri yang terlalu asyik main ponsel atau media sosial. Anak balitanya dibiarkan main sendiri.

Anak kecil itu akhirnya tenggelam di dalam ember di kamar mandi. Suami dan istri saling menyalahkan. "Tapi anaknya sudah mati. Tidak bisa hidup lagi," kata sang pastor.

Pater Goris kemudian menyoroti manusia-manusia modern yang makin fokus pada diri sendiri. Fokus gadget, swafoto, abai pada sesama.

Beda dengan tiga majus yang pandai membaca pertanda alam kemudian mengikuti petunjuk bintang dan akhirnya sampai di kandang Bethlehem itu.

Jumat, 03 Januari 2020

Tahun terberat dalam hidupku

Tahun 2019 baru saja berlalu. Suka duka, pahit getir sudah kita lewati. Saatnya kita menatap tahun 2020 dengan optimisme sambil memohon berkat dan perlindungan Tuhan.

Bagi saya, 2019 adalah tahun spesial yang tak akan saya lupakan seumur hidup. Tahun terberat. Ayahandaku Nikolaus Nuho Hurek dipanggil ke pangkuan-Nya pada 22 Juli 2019.

Inilah momen ketika saya resmi jadi yatim piatu. Ibundaku Maria Yuliana sudah lebih dulu dipanggil ke rumah-Nya tahun 1998. Saat itu sedang ramai-ramainya gerakan reformasi menurunkan rezim Soeharto.

Kepergian Bapa Niko Hurek bulan Juli 2019 membuat saya jadi banyak merenung. Tidak bisa lagi banyak tertawa atau bercanda seperti biasanya. Sekaligus mengubah rencana yang sudah saya konsep di kepala.

Tahun 2020 baru berumur tiga hari. Suasana awal tahun ini ditandai dengan bencana alam banjir di Jakarta dan beberapa kota lain. Berat memang tantangan hidup ke depan.

Tahun-tahun ke depan tentu makin sulit ketika aku tak punya lagi ayah dan ibu kandung. Tapi masih ada 2 paman dan 2 bibi yang tak lain adik kandung mendiang ayahku.

Masih ada pula 3 adik kandungku di NTT (Yus, Erni, Is). Juga masih ada keluarga besar marga Hurek Making di Pulau Lembata, NTT.

Selamat Tahun Baru 2020! 

Rabu, 01 Januari 2020

Tahun Baru di Atas Karpet

Tak ada acara khusus menyambut tahun baru di Surabaya. Wali Kota Risma seminggu sebelumnya melarang warga ramai-ramai di jalan raya. Tidak boleh konvoi. Tidak perlu pesta kembang api. Tidak usah trompet-trompetan dsb.

Maka malam tahun baru di Surabaya terasa biasa. Sama saja dengan malam-malam biasa. Cuma ada pengajian bersama di Jalan Kembang Jepun. Baguslah... tahun baru diisi doa bersama.

Saat melintas di Taman Bungkul suasana sangat ramai. Puluhan polisi, tentara, satpol PP, apel siaga. Meskipun mendukung, warga Surabaya tetap menikmati malam pergantian tahun di tengah kota. Tanpa pertunjukan musik atau atraksi kesenian lainnya.

Beda banget dengan beberapa tahun lalu. Old and New diisi dengan pesta rakyat. Ada car free night di Tunjungan hingga Taman Bungkul. Rupanya Pemkot Surabaya, khususnya Bu Risma, kapok dengan efek negatif macam kemacetan, ugal-ugalan dsb.

"Saya imbau warga Surabaya tahun baruan di bersama keluarga di rumah," kata Bu Risma.

Syukurlah, Sidoarjo masih punya tradisi pesta kembang api di alun-alun. Ada hiburan musik, bazar produk UKM, hingga pesta rakyat. Kuliner khas Sidoarjo bisa dinikmati di kawasan alun-alun.

Saya selalu terkesan dengan suasana tahun baru di Sidoarjo. Ingin meluncur ke kawasan selatan Surabaya itu untuk melihat gebyar kembang api dan kemeriahan di Alun-Alun Sidoarjo itu.

Sayang, semalam badanku tak kuat. Ngantuk poll. Saya pun memutar musik jazz ringan sambil tiduran di atas karpet. Enak banget karena kawasan Surabaya Selatan semalam tidak sumuk.

Eh, kebablasan hingga pukul 04.00 pagi. Sudah tahun baru. 1 Januari 2020.

Selamat Tahun Baru!

Senin, 30 Desember 2019

Hitam Manis Tinggal Kenangan

Pagi buta Mas Jum di Sydney mengepos foto orang Australia menikmati wisata pantai. Asyik banget. Memang lagi musim panas di benua selatan itu.

Lalu, seperti biasa, saya nyentil seniman lukis dan dosen asal Sidoarjo itu. Orang Indonesia tidak suka berjemur di pantai karena takut hitam. Orang Indonesia memilih menghindari matahari.

"Harus diakui iklan pemutih kulit sukses besar di Indonesia," kata Mas Jum yang nikah sama wanita bule Aussie itu.

Mas Jum komentar lagi: "... seiring jaman, fashionnya sudah menutup tubuh keseluruhan. Matahari dan proses penghitaman terlerai."

Klop sudah. Di satu sisi ada kampanye iklan pemutih kulit, di sisi lain ada fashion menutup seluruh tubuh. Dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Tentu saja wisata mandi matahari makin tidak cocok dengan ideologi mayoritas orang Indonesia hari ini. Mungkin akan ada wisata pantai halal atau syariah untuk mengakomodasi tren mode tertutup penuh itu.

Aku jadi ingat Hitam Manis, lagu hit 1970an dari Mus Mulyadi diiringi OM Pancaran Muda. Lagu ini pernah viral (istilah media sosial) di nusantara. Anak-anak kampung yang belum punya listrik pun menyanyikannya.

hitam manis
hitam manis
pandang tak jemu
pandang tak jemu
.....

Paul Widyawan, dirigen dan pelatih paduan suara terkenal dari Jogjakarta, bahkan membuat aransemen SATB untuk lagu Hitam Manis. Dibawakan berbagai paduan suara mahasiswa di tanah air pada 1980an dan 1990an.

Lagu yang memuja gadis berkulit hitam manis ala nusantara yang tropis. Rancak nian aransemen kor ala Paul Widyawan yang memang dikenal sebagai raja musik liturgi inkulturasi.

Sayang... Indonesia sudah berubah. Gadis hitam manis sudah tak lagi membuat jejaka pandang tak jemu, pandang tak jemu.

 "Cewek hitam manis ramai-ramai beli pemutih agar kehitaman kulitnya terlerai," kata Mas Jum di Sydney.

Gara-gara obrolan soal wisata pantai dan gadis hitam manis tempo dulu, aku ngecek YouTube. Lagu Hitam Manis Mus Mulyadi ternyata banyak banget.

 Bahkan ada versi aslinya tahun 1954 dari Malaysia. Dari R. Azmi. "Godfather of lagu Melayu adalah R. AZMI, suaranya pula sangat unik, tidak ada sapa yg lebih sedap nyanyi lagu ini daripada R. AZMI," tulis orang Malaysia.

Oh, ternyata aku salah. Selama ini aku sangka Hitam Manis itu ya lagunya OM Pancaran Muda dengan vokalis Mus Mulyadi.

Orkes Pancaran Muda dulu sering main di istana untuk menghibur Presiden Soekarno. Bahkan resepsi pernikahan Bu Megawati Soekarnoputri dulu dimeriahkan OM Pancaran Muda pimpinan Zakaria, musisi hebat dan jenius pada masanya.

Masih soal hitam manis. Minggu lalu Prof Budi Darma menulis di Jawa Pos. Masih terkait industri hiburan kita yang hampir semua pemainnya bule atau setengah bule.

"Rambut hitam di-toning jadi blonde. Kulit sawo matang di-white cleansing supaya tampak seperti bule. Tanpa sadar kita merasa rendah diri terhadap bekas penjajah kita, dan karena itulah kita berlagak seperti bekas penjajah kita," tulis Prof Budi Darma dari Universitas Negeri Surabaya.

Jumat, 27 Desember 2019

Aning Katamsi dan Dewa Budjana Bawakan O Holy Night



Ada kiriman link menarik dari orang NTT di Jatim. Lagu O Holy Night dibawakan dengan sangat bagus oleh Aning Katamsi dengan iringan gitaris Dewa Budjana.

Aku pun masuk ke YouTube. Wow... bagus banget. Harmoni yang indah saat Natal begini. Ketika polemik soal selamat natal dan tahun baru masih berseliweran di media sosial.

Aning Katamsi siapa tak kenal? Dia juara bintang radio seriosa pada era 1990-an. Mamanya juga juara seriosa tempo doeloe: Pranawengrum Katamsi.

Orang-orang lawas sangat hafal lagu seriosa yang dulu sangat populer macam Kisah Mawar di Malam Hari. Aning pun kerap membawakannya.

Aning lebih terkenal karena sering kolaborasi dengan penyanyi pop papan atas macam Chrisye. Vokal soprano di album pop biasanya diisi Aning.

Dewa Budjana? Gitaris asal Bali ini juga hebat banget. Selain gitaris Gigi, dia juga bikin album solo nan unik. Sangat jarang musisi Indonesia bikin album instrumentalia. Dewa punya kelas.

Kolaborasi Aning dan Budjana membawakan lagu Natal terkenal itu sangat berkesan di hati saya. Kualitasnya sih oke meskipun mungkin bukan yang terbaik. Ada ribuan atau jutaan artis atau orang biasa yang membawakannya di YouTube.

Tapi di tengah suasana yang selalu hangat di NKRI jelang Natal (tradisi tahunan), duet Aning dan Budjana ibarat oase di padang tandus. Aning yang muslim, pakai hijab, melantunkan O Holy Night dengan teknik dan penjiwaan luar biasa. Budjana yang Hindu memainkan gitar dengan petikan yang khas.

Duet artis Hindu dan Islam itu membawakan O Holy Night. Membagikan pesan damai untuk sesama anak bangsa Indonesia. Bahwa Natal adalah hari kelahiran Kristus sang pembawa damai. Bahwa kedamaian itu perlu disebarluaskan di bumi ini.

Aning Katamsi dan Dewa Budjana... terima kasih!
Damai di bumi!
Damai di hati!

Misa Natal di Semarang - Nostalgia Madah Bakti

Suasana Natal tahun ini sangat berbeda. Saya tidak mudik ke NTT karena kuota cuti sudah habis. Jatahnya sudah saya pakai saat ayahku meninggal dunia pada 22 Juli 2019 lalu.

Gak enak kalau ambil cuti lagi untuk natalan. Dan tidak mungkin dikasih libur minimal 5 hari. Paling cuma 2 hari. Dus, tidak mungkin bisa pulang ke Lembata untuk misa plus perayaan Natal ala orang Lamaholot.

Maka, saya memutuskan ikut tur bersama seluruh karyawan ke Semarang. Studi banding ke Radar Semarang, koran daerah yang paling sukses di Jawa, sekaligus menikmati kota lama yang penuh bangunan kolonial yang cantik.

Sebelum tur, saya dan Novilawati yang ditugaskan untuk melakukan survei ke Semarang untuk tur 25-26 Desember 2019. Makanya aneh kalau saya tidak ikut piknik ke Semarang.

Nah, saat survei ke kota lama Semarang itu, saya juga survei gereja. Ada Gereja Blenduk yang terkenal di kota lama. Tapi gereja itu Protestan. GPIB Immanuel. Aku tidak mungkin misa di situ.

Bergeser ke pojokan, keluar sedikit dari areal wisata kota lama... wow, ada gereja katolik. Gereja Santo Yusuf, Gedangan, Semarang. Gereja Katolik tertua di Pulau Jawa.

Gereja Gedangan ini sangat terkenal karena dulu Monsinyur Soegijapranata melayani di sini. Beliau uskup pribumi pertama yang juga pahlawan nasional. Gereja Gedangan juga jadi lokasi syuting film Soegija.

Saya juga survei ke Katedral Semarang. Lokasinya dekat Lawang Sewu. Sama-sama gereja tua yang bersejarah.

Maka, jauh hari saya sudah rencana misa malam Natal di Gedangan atau Katedral. Mana yang dekat hotel dan jamnya cocok.

Ternyata Gereja St Yusuf Gedangan yang paling dekat. Tidak sampai 7 menit (kalau tidak macet). Misa keduanya pukul 20.30. Di Katedral Semarang pukul 21.00. Maka pilihanku jelas di Gedangan.

Selasa malam, 24 Desember 2019.

Ketika 69 peserta tur Kota Lama Semarang mulai mlaku-mlaku nang kota lama, saya berbelok ke arah Gedangan. Ada tukang ojek yang mendekat.

"Gerejanya dekat. Sampean kasih berapa aja terserah," kata ojek merangkap jukir di kota lama itu.

Satu jam sebelum misa gereja sudah terisi 80%. Saya pun masuk dan dapat tempat duduk agak depan. Lokasi ideal untuk menikmati suasana gereja tua anno 1870 itu. Juga dekat paduan suara yang pakai baju lurik dan blankon khas Jawa.

Arsitektur gereja ini memang indah. Ruangannya membulat dengan lukisan klasik di atasnya. Beda dengan gereja-gereja tua di Surabaya yang cenderung mengotak. Pilar-pilarnya juga besar.

Setelah menunggu hampir satu jam, ekaristi malam Natal pun dimulai. Kor baju lurik diiringi musik campuran keroncong dan klasik ala gereja. Lengkap dengan bas betotnya. Kualitas musik dan kor di sini di atas rata-rata nasional. Baik aransemen, harmoni paduan suara, tempo dsb.

Misa di Semarang ini juga mengingatkan saya pada Madah Bakti. Buku nyanyian liturgi ini sampai sekarang dipakai di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Di Jawa Timur sudah tidak dipakai sejak 1994 (kalau tidak salah) karena diganti Puji Syukur.

Lagu-lagu Madah Bakti memang dirancang sebagai musik inkulturasi nusantara. Karena itu, ensambel keroncong ala Gedangan Semarang ini sangat cocok. Apalagi dirigen dan pemusiknya memang seniman beneran. Bukan umat yang penguasaan musiknya pas-pasan.

Semua lagunya memang dari Madah Bakti. Mulai ordinarium Misa Pustardos yang dari Flores, Alam Raya Karya Bapa, Malam Kudus, Gegap Gempita di Alam...

Saya benar-benar menikmati misa malam Natal meskipun jauh dari keluarga di NTT. Juga tidak kenal romonya. Seorang pastor Yesuit yang homilinya sangat bermutu. Omongan Romo Maryono SJ halus tapi mendalam.

Selepas misa--ini yang beda dengan Surabaya atau Sidoarjo--jemaat tidak langsung pulang. Ada semacam pesta rakyat di halaman gereja dan sekolah. Sudah disiapkan soto, rawon, gudeg dan minuman kopi, teh, es dsb.

Suasananya benar-benar meriah layaknya pesta rakyat. Umat berbaur menikmati nasi soto, rawon, gudeg yang lezat. Di panggung ada pertunjukan musik keroncong dan kesenian anak-anak muda.

Meskipun sudah ganti hari, lewat pukul 00.00, umat Katolik di Semarang tidak buru-buru pulang ke rumah masing-masing. Sepertinya mereka menghayati kegembiraan gembala-gembala Bethlehem yang menemani Sang Bayi Kudus bersama Yosef dan Maria di kandang sederhana itu.

"Tiap tahun ya acaranya seperti ini. Biar umatnya guyub dan rukun," ujar seorang bapak yang memakai baju lurik.

Malam kian larut berganti pagi. Saya pun makin ngantuk. Jalan kaki lima menit ke pangkalan ojek di kota lama. Lalu menumpang ojek motor ke Pesonna Hotel Semarang. Teman-teman sudah pada ngorok.