Minggu, 05 Januari 2025

Tahun baru kelabu di Jolotundo Trawas

Natal kelabu, tahun baru juga hambar. Malam tahun baru saya mampir di rumah panggung kawasan Biting, Seloliman, Trawas. Dekat petirtaan Jolotundo. Mendinginkan badan.

Pak Gatot Hartoyo hanya ditemani Dila, anaknya Mbak Nur pembantunya Pak Gatot. Dila masih kelas 3 SMP. Belum pintar masak. Beda dengan mamanya.

Mbak Nur ke mana? "Lagi sakit. Sedang perawatan," kata Dila. 

Rupanya Mbak Nur sudah lama sakit berat di payudara. Perlu kemoterapi. Duh, Gusti!

Tak ada Mbak Nur membuat malam tahun baru terasa hambar. Tak ada acara makan-makan, sarasehan budaya seperti biasanya. Hiburan musik dari Heri Biola pun tak ada.

"Mas Heri pulang ke Sidoarjo. Memang nggak ada agenda malam tahun baru," kata Pak Gatot yang juga penulis beberapa buku sejarah Sidoarjo. 

Maka, malam itu kami hanya sarasehan berdua. Di usianya yang senja Pak Gatot masih tajam analisisnya. Banyak cerita tentang perkembangan Jolotundo, bisnis warung, vila-vila hingga teman-teman sebayanya yang sudah tiada.

"Teman-teman saya sudah nggak ada semua," kata Gatot.

 Ia lalu menyebut nama-nama seniman + budayawan Sidoarjo yang sudah berpulang. Bambang Haryadjie pelukis. Bambang Tri budayawan penulis buku. Eyang Thalib pelukis. Mas Eko Porong pemilik galeri. Santoso pematung. Erwin budayawan. 

Di mana Pak Hendri Haryanto kurator lukisan? "Agak stres kayaknya sejak istri dan anaknya diambil mertua. Dia benar-benar terpukul," kata Pak Gatot.

Obrolan mengalir perlahan hingga 23.00. Saya pun ngantuk berat. Rahayuuuu!

1 komentar: