Jumat, 09 Mei 2025

In the Shadow of Pope Leo X and Martin Luther, Hope Grows with Pope Leo XIV

By Fr. Patris Allegro, Kupang, Indonesia

Pope Leo X and Martin Luther stand as two unyielding poles of Church history. One represents the apex of ecclesial power in the 16th century; the other, the inner cry of a troubled Augustinian monk

Their clash was not merely a conflict of ideas, but of spiritual experience—between institution and conversion, between worldly splendor and restless faith.

Luther, in the silence of his Augustinian cloister, once wrote that he found no peace until he realized that "the righteousness of God" was not condemnation, but mercy that justifies the sinner by faith. It was a personal awakening that shattered external order. But in the turmoil of the time, there was no space for dialogue—what emerged instead was division.

Now, centuries later, we witness the election of Pope Leo XIV, also from the Order of Saint Augustine. As if history offers a new possibility—not a re-run of conflict, but the gift of healing. He carries the Augustinian legacy not to reopen old wounds, but to mend what has been torn.

Leo XIV does not come with the power of Leo X, nor with the fury of Luther, but with the humility of a shepherd shaped by pastoral mission in Peru—far from the centers of prestige, close to the peripheries where the Church walks in weakness and compassion. 

His priesthood, his missionary heart, his years among the poor, place him nearer to the anguished soul Luther once was. He knows that true conversion is not a journey toward doctrine, but toward a Person: the living Christ.

There is profound meaning in this symbolic convergence—that the two who once stood opposed now find a kind of unity, not historically, but spiritually. In Pope Leo XIV, we glimpse a meeting point: between Rome and Wittenberg, between past and future, between truth and mercy.

Perhaps this is what his motto proclaims: In illo uno unum—"In the One, we are made one."

 In Christ, even history's wounds can become a font of reconciliation.

Suster Ursula OSA dari Lembata pernah bertemu dan dialog dengan Kardinal Robert Prevost OSA yang kini jadi Paus Leo XIV

Sehari sebelum Konklaf di Vatikan, Suster Ursula OSA kirim pesan WA kepada saya:

"Sekarang te laran kae pi. Pedela dgn kereta dari Semarang."

Bahasa Lamaholot artinya: "Saya sudah di perjalanan dengan kereta dari Semarang."

Mampir sejenak, seperti biasa, di Biara Susteran Ordo Santo Agustinus (OSA) di Geluran, Taman, Sidoarjo. Kemudian Sr Ursula dan suster-suster lain langsung ke Tumpang, Malang. Di Rumah Sakit Sumber Santosa. Sekaligus Biara OSA yang besar dan bersejarah.

saat itu saya sedang menyunting berita tentang persiapan pemilihan paus baru. Pengganti Paus Fransiskus yang wafat pada 21 April 2025. Saya baca-baca beberapa media Barat yang mengunggulkan nama beberapa kardinal.

Habemus Papam!

Jumat dini hari, 9 Mei 2025, tersebar luas berita dan video Paus Leo XIV memberkati ribuan jemaat di Lapangan Santo Petrus. Paus pertama dari Amerika Serikat dari Ordo Santo Agustinus (OSA).

Saya langsung kirim ucapan selamat kepada Sr Ursula OSA di Tumpang. Selamat atas terpilihnya Paus Leo XIV! Paus dari OSA!

Suster Ursula OSA langsung bagi foto lama yang bersejarah. Foto bersama Pater Robert Prevost OSA. Saat itu Pater Robert menjabat superior general atau pimpinan tertinggi kongregasi OSA di seluruh dunia.

"Ketemu 15 tahun yang lalu ketika ada pertemuan kaum muda Agustinus di Inggris. Waktu itu na sbg General OSA 😁" tulis Suster Ursula OSA.

Seperti kebetulan. Tak terbayangkan Kardinal Robert Prevost OSA akhirnya terpilih sebagai Paus Leo XIV. Deo gratias! Syukur kepada Allah!

Suster Ursula dan suster-suster, romo-romo OSA, tentu sangat bahagia. Bahkan semua umat Katolik ikut bahagia karena takhta lowong, sede vacante, sudah terisi.

Paus baru ini tentu punya kedekatan dengan para imam dan suster OSA di Indonesia. Bahkan, saat menjadi superior general OSA, Paus Leo XIV juga pernah berkunjung ke Sorong, Papua, 2003.

Habemus Papam! Kejutan Paus Leo XIV dari Amerika Serikat

Sudah saya duga konklaf akan selesai dalam dua hari. Sama dengan dua konklaf sebelumnya yang memilih Paus Benediktus XVI dan Paus Fransiskus. 

Saya juga menduga hasil konklaf terlihat pada pemilihan putaran ketiga atawa keempat. Balot pertama mustahil. Balot kedua juga sulit. Biasanya paus baru terpilih setelah balot ketiga atau keempat. Paus Yohanes Paulus II pada balot kelima kalau tidak salah.

Karena itu, saya menunggu asap hasil balot ketiga dari Kapel Sistina di Vatikan sekitar pukul 23.00. Tapi saya ketiduran. Kelelahan. Baru terbangun pukul 02.00. Nonton sepak bola.

Saya yakin sudah Habemus Papam! Betul. Saya cepat-cepat nyalakan ponsel. Situs-situs dunia ramai-ramai memuat berita tentang paus baru asal Amerika Serikat: Paus Leo XIV

Kardinal Robert Prevost asal Chicago ini benar-benar kejutan. Sama seperti Paus Fransiskus yang juga tidak terduga.

Sejak Paus Fransiskus wafat pada 21 April 2025 - mudah diingat karena pas Hari Kartini - saya sering menerjemahkan, lebih tepatnya mengolah berita-berita terkait Paus Fransiskus, konklaf, dan siapa gerangan kardinal yang diunggulkan.

Ada 9 nama yang disebut-sebut. Ada media yang mengerucut jadi 6 nama. Kardinal dari Filipina bahkan sering disebut. Tapi tidak ada nama Kardinal Robert Prevost dari USA. 

Media-media besar dunia malah cenderung memprediksi dari Global South. Asia Afrika dianggap punya peluang. Ada lagi analisis bahwa 80% kardinal yang ikut konklaf diangkat oleh Paus Fransiskus. Karena itu, kardinal yang dekat dengan Pope Francis dianggap paling berpeluang.

Tapi konklaf bukan pemilihan presiden atau pemilu biasa. Sebelum mulai konklaf 133 kardinal menyanyikan Veni Creator Spiritus. Lagu terkenal yang pasti dihafal semua orang Katolik di dunia. Di Flores lagu ini bernama Datanglah, Ya Roh Pencipta!

Ya.. Roh Pencipta itulah yang bekerja.
Habemus Papam! Paus Leo XIV.

Kamis, 24 April 2025

Pater Markus Solo Kewuta SVD Menyapa Paus Fransiskus di Dalam Peti Jenazah

Pagi belum benar-benar ramai di Vatikan. Tapi satu pria asal Flores Timur sudah duduk diam di kursi yang tak jauh dari peti Paus Fransiskus. Namanya Pater Dr Markus Solo Kewuta, SVD

Di kalangan Gereja Katolik internasional, namanya tidak asing. Ia adalah imam misionaris yang sudah lama jadi bagian dari jantung Takhta Suci.

Dan pagi itu, tepat pukul 07.00 waktu Roma, Pater Markus datang untuk yang ketiga kalinya melihat jenazah pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu. Tapi kali ini beda.

"Rasanya tidak ingin pergi dari tempat itu," katanya.

Peti tempat Paus terbujur itu, katanya, sangat sederhana. Tanpa ukiran berlebih. Tubuh Paus sudah jauh berubah. Wajahnya putih pucat. Tak segemuk dulu. 

"Semuanya menyusut," ujar Pater Markus.

Yang mencolok hanya jubah merah yang dikenakan. Bukan merah biasa. Itu merah liturgi—warna cinta yang paling besar kepada Tuhan. Juga simbol kematian dalam tugas suci.

Selama tiga puluh menit ia duduk di situ. Kadang berlutut. Kadang duduk diam. Seperti sedang mengulang film panjang yang pernah mereka jalani bersama: saat Paus datang ke Jakarta, lalu Port Moresby, Timor Leste, hingga ke Singapura. Termasuk di dalam pesawat yang sempit tapi penuh cerita.

Dan ketika waktunya berpamitan datang, Pater Markus berdiri. Ia mendekat. Lalu dengan suara nyaris tak terdengar, ia berkata: "Selamat jalan, Bapa Suci. RIP."

Tak ada air mata. Tapi ada hening yang lebih dalam dari tangisan.

Begitulah pagi itu di Vatikan. Bukan pagi yang biasa bagi Pater Markus dari Flores Timur.

Selasa, 22 April 2025

Paus Fransiskus bahagia di surga! Ora pro nobis, Sancto Pater!

Masih dalam suasana Paskah, Paus Fransiskus pulang. Bapa Suci bahagia bersama Bapa di surga. Bersama Yesus Kristus yang bangkit.

Haleluya!

Syukur kepada Allah!

Deo gratias!

"Alleluia! Tugas suci sudah purna," kata lagu Paskah lama di buku Madah Bakti. Lagu bagus itu sudah lama hilang karena tidak dimuat di Puji Syukur.

Paus Fransiskus juga manusia. Sama seperti kita. Sakit, masuk rumah sakit sangat lama. Gangguan pernapasan dsb. 

Keluar rumah sakit tapi butuh istirahat. Pemulihan. Tapi di usia 88, Paus Fransiskus akhirnya pamit. Memberkati ribuan orang yang memadati Lapangan Santo Petrus.

Sudah selesai! kata Yesus sebelum wafat.

Wus rampung!

Kematian Paus berbeda dengan kematian orang biasa. Santo Bapa, Holy Father, sudah bahagia di surga.

Mengapa bersedih hatimu? Tak perlu sedih. Bapa Suci sudah berada bersama rombongan para kudus di surga, kata kawan lama yang rajin misa harian.

"Justru kita-kita yang masih di dunia ini minta didoakan oleh Paus Fransiskus," katanya.

Rupanya cukup banyak orang di grup media sosial yang sepakat. Bahwa Bapa Suci sudah tenang dalam damai, bahagia di surga. Tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit lagi.

"Mengenang kembali salah satu momen saat Bapa Suci melakukan kunjungan ke Indonesia ❤️ Doakan kami yang masih berjuang di dunia ini Bapa," tulis  Janes Sihotang di grup medsos.

Ora pro nobis, Sancto Pater!

Minggu, 20 April 2025

Misteri tangga tua di Jalan Gula Surabaya

Saya naik tangga itu. Setengah ragu. Tapi juga penasaran. Tangga tua itu memanggil. Seperti bisikan dari masa lalu.

Ini Jalan Gula. Di Surabaya. Tempat para pedagang gula dan rempah dulu berjaya. Kini yang tersisa hanya puing, cat yang mengelupas, dan tangga tua yang entah menuju ke mana.

Maureen Nuradhi, dosen dari UC Surabaya, datang ke sini beberapa waktu lalu. Bersama komunitas pencinta sejarah. Ia berdiri di depan tangga itu, lama.

 Saya tahu, Maureen tidak sedang menghitung jumlah anak tangganya. Ia sedang mendengarkan bisu sejarah yang bergema di situ.

Tulis Bu Dosen itu: "Sebuah tangga tua, selalu menimbulkan perasaan yang campur aduk. Misteri di ujungnya. Kenangan peristiwa lebih dari seratus tahun yang membekas di semua anak tangganya."

 Saya diam. Saya mengerti perasaan itu. Saya juga merasakannya.

Di tikungan Jalan Gula itu, ada ibu penjual kopi. Namanya Munawaroh. Asalnya dari Madura. Orang sini memanggilnya Bu Muna. Ia sudah lama tahu kalau tangga itu punya daya tarik.

 "Banyak anak muda datang. Foto-foto. Ada yang buat prewedding juga," katanya. 

Saya tanya, "Pernah ada yang aneh?" Ia tertawa kecil. 

"Saya sih nggak pernah lihat apa-apa. Tapi suami saya... katanya sering lihat 'beberapa orang'."

Saya tidak tanya lebih jauh, karena Bu Muna sendiri tidak tampak ingin membahasnya lebih dalam. Lagi pula, siapa yang bisa benar-benar tahu siapa yang turun naik tangga itu di malam hari?

Tak jauh dari situ, di Jalan Karet nomor 54, ada bangunan tua lain. Sudah lama kosong. Pernah jadi gudang. Kini mangkrak. Seperti menunggu takdir. Seperti menyimpan cerita yang belum sempat diceritakan.

Surabaya punya banyak tangga seperti itu. Tangga-tangga tua yang bukan sekadar akses ke lantai atas. Tapi juga akses ke masa lalu. Dan mungkin... ke dunia lain. 

Sabtu, 19 April 2025

Jumat Agung di Kayutangan, Tiga Romo dari Flores, Passio Edisi NTT

Saya ikut sesi pertama. Jam 12.00. Di Gereja Kayutangan, Malang. Gereja tua yang jadi favorit sejak zaman saya masih sekolah dulu.

Harus ibadat awal karena kantor tidak libur. Tapi tak masalah. Saya tetap bisa WFA—work from anywhere. Jam dua ibadat bubar. Ponsel dibuka, kerja jalan terus.

Satu jam sebelum mulai, gereja sudah penuh. Luar biasa. Deo gratias! 

Saya masih dapat tempat duduk di dalam. Di sebelah saya: seorang mahasiswi asal Flores. Manis. Tapi kurus. Entah karena diet ketat, entah karena kantong mahasiswa yang ketat.

Sambil menunggu ibadat dimulai, berdoa Rosario. Satu peristiwa saja cukup.

Lalu gereja mulai sibuk. Misdinar mondar-mandir. Petugas liturgi mulai bersiap. Tiga imam masuk. Semua berbaju merah. Warna khas Jumat Agung.

Romo Simon Rande, O.Carm. Dua romo lainnya lebih muda. Ketiganya dari Flores. Seru juga. 

Ternyata bukan cuma imamnya. Yang menyanyikan Passio juga orang Flores. Dua awam dan satu romo yang memerankan Yesus. Lengkap. Tim Passio edisi NTT.

Homili dibawakan salah satu imam muda. Juga dari Flores. Gaya bicaranya santai. Tidak pegang teks. Tidak baca catatan. Semua dari kepala. Logat Flores-nya ada, tapi tidak tebal.

Bagian penghormatan salib seperti sebelum pandemi. Saya sempat mengira cara saat COVID dulu akan jadi norma baru. Ternyata gereja merasa: virus sudah lewat. Tidak perlu lagi jaga jarak dan sterilisasi.

Hari ini saya bersyukur. Bisa ikut Jumat Agung di tempat penuh kenangan. Dapat tempat duduk. Di samping mahasiswi manis pula. Haleluyaaa!