Awal Desember 2025. Ada bus Trans Jatim buka rute dari Malang Kota alias Malkot ke Batu. Goe lagi baca-baca berita yang kurang menarik di ponsel. Dekat Stasiun Kota Baru.
Bus TJ berhenti. Goe pun bergerak naik ke TJ. Sudah penuh. Harus berdiri dari Malkot ke Batu. Gak masalah. Toh bus baru masih kinclong. Pramugarinya ramah. Lumayan ayu. Nilainya 7,8.
Goe akhirnya sampai di Batu. Ngopi sebentar dekat terminal yang bagus banget. Lalu naik ojek ke alun-alun. Dekat saja. Banyak perubahan di Kota Batu. Makin bagus setelah jadi kota sendiri. Terpisah dari induknya Kabupaten Malang.
Goe menikmati suasana Batu yang adem. Lebih dingin ketimbang Malang. Napak tilas jalan kaki mampir sejenak di beberapa biara dan Gereja Katolik.
Sejak dulu Batu memang dikenal sebagai kota rekoleksi atau retret. Kalau tidak retret biasanya jarang sekali orang Katolik di Dioses Malang yang mampir ke Batu. Kecuali urusan dagang atau rombongan wisata biasa.
Goe sempat misa senja di Batu.
Mea culpa!
7.8? Tidak ada fotonya ? Pemandangan menarik harusnya bagi2 dong, kaka?!
BalasHapuswah kapan2 baru bagi sikit. pemandangan bagus tapi bus penuh sesak. ayas berdiri pergi pulang lumayan lama. rutam nuwus
HapusMembaca artikel Anda tentang Kota Batu, saya jadi teringat pengalaman 60 tahun silam, ketika saya untuk pertama kalinya kenal Kota Batu. Tepatnya tahun 1965, saat setelah peristiwa G-30-S, kala situasi yang mencekam. Waktu itu, saya masih duduk di bangku kelas 2 SMA, di kota Malang. Tacik sepupu saya datang dari Surabaya dan mengajak berziarah ke Gunung Kawi. Dari Malang kami naik bus ke Batu, selanjutnya dari Batu menumpang Oplet-Tua ( kabin penumpangnya masih terbuat dari kayu jati ) menuju ke Gunung Kawi. Waktu itu di Gunung Kawi belum ada hotel atau losmen. Semua peziarah menginap di balai tempat selametan, tidur di lantai beralas tikar. Tempat mandi dan WC nya pun sangat unik djadoel.
BalasHapus60 tahun silam pasti situasi kehidupan di Tiongkok lebih suram daripada kita yang hidup di Djawa Timur.